Share

Hadapi Kemarau, Petani Bojonegoro Atur Waktu Tanam

Bojonegoro (Media Center) – Memasuki musim kemarau tahun 2016 ini, Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, megklaim tidak ada lahan pertanian yang mengalami kekeringan atau gagal panen. Hal ini dikarenakan, sebelum melakukan penanaman baik padi maupun palawija, harus berkoordinasi terlebih dahulu dengan HIPPA (Himpunan Pengguna Air).

Kepala Dinas Pertanian Bojonegoro, Ahmad Djupari, mengatakan, apabila kebutuhan air mencukupi di sekitar lahan pertanian selama panen, petani dipersilahkan menanam padi. Tetapi, apabila lahan pertanian yang dimiliki petani tidak ada kebutuhan air yang bisa mencukupi jangan memaksakan diri.

“Lebih baik menanam palawija atau tembakau,” tukasnya, Rabu (4/5).

Dengan strategi seperti itu, masyarakat bisa memahami dan diterapkan pada musim kemarau sekarang ini sehingga tidak ada petani yang gagal panen karena kekeringan. Kalaupun ada yang mati karena kekeringan, itupun jumlahnya sedikit sekali.

“Karena kami sudah melakukan sosialisasi berkali-kali,” tandasnya.

Pihaknya menyampaikan, saat ini para petani sebagian besar menanam kedelai dengan hasil yang bagus pula, hal ini dikarenakan Disperta melakukan pendampingan bagaimana cara menanam kedelai dengan benar.

Dia menyatakan, tanaman kedelai di Bojonegoro luasnya mencapai 44.000 hektare, meningkat sekitar 40 persen dibandingkan luas areal tanaman kedelai musim kemarau lalu. “Kami optimistis produksi kedelai  memiliki kualitas yang bagus dengan harga yang memadai,” lanjutnya.

Dia jelaskan,  dari 230.706 hektare (ha) lahan, 77.522 ha merupakan sawah, 98.729 ha bukan sawah dan 54.455 ha bukan lahan pertanian. Sedangan untuk luas tanaman di sekitar Sungai Bengawan Solo seluas 35.892 ha dan sekitar Waduk Pacal 25.737 ha.

Selain itu, untuk lahan yang memanfaatkan sumber air dari embung ada 21.678 ha. Di situ terdapat tanaman kedelai seluas 14.184 ha, padi 83.307 ha dan jagung 19.237 ha. Sementara target pertanian pada tahun ini diharapkan menghasilkan lebih dari 7 ton per ha i dibandingkan pada musim penghujan yang hanya mencapai 5 sampai 6 ton per hari.

“Kami memang menargetkan lebih banyak dari musim penghujan, karena selain ada beberapa lahan yang bisa ditanami saat musim hujan nanti, cara budidaya dan perawatan yang benar, serta kebuituhan air dan sinar matahari yang cukup akan meraih target tersebut,” pungkasnya.(dwi/mcb)

Leave a Comment