Share

Harga Minyak Anjlok, BOSE Harap Lapangan Malo Tetap Produktif

Bojonegoro (Media Center) – PT Bojonegoro Stupa Energi (BOSE), operator lapangan Malo berharap Kerjasama Operasi (KSO) Lapangan Malo dengan Pertamina EP bisa berjalan lancar meski harga minyak mentah dunia anjlok.

“Saya dengar ada beberapa pengelola KSO yang minta ijin untuk menghentikan kegiatan, paling tidak satu tahun,” ujar anggota dewan direksi PT BOSE, Deddy Affidick, Selasa (3/5).

Mantan dirut BUMD PT Bojonegoro Bangun Sarana (BBS) ini berpendapat, dengan turunnya harga minyak dunia hingga USD 35/Barel perlu ada penghitungan ulang. Atau paling tidak menunggu kondisi stabil.

“Perusahaan-perusahaan besar saja banyak yang tiarap, apalagi yang kecil,” imbuhnya.

Perlu ada keputusan bisnis yang harus diambil. Apakah dengan harga minyak saat ini bisa untung. Karena pada saat pertama kali ikut tender KSO Malo, harga minyak msh sekitar USD 75/Barel.

Deddy belum mengetahui bagaimana komitmen PT Stupa Mahya Tama yang harus membayar signature bonus USD 550.000  ke Pertamina EP dalam waktu dekat.

“USD 550.000 itu baru signature bonus, belum untuk kegiatan apa-apa,” ungkapnya.

Untuk diketahui, PT Bojonegoro Stupa Energi (BOSE) merupakan  joint venture antara PT BBS dan PT Stupa Mahya Tama. Untuk mengelola Lapangan Malo, PT BBS akan mendapatkan keuntungan sebesar 25% sedangkan PT Stupa Mahya Tama 75%.(dwi/mcb)

Leave a Comment