Share

Harga Rawit Merah Mahal, Pedagang Makanan Gunakan Cabai Kering

Bojonegoro, 9/1 (Media Center) – Kenaikan harga cabai membuat para pedagang makanan harus pandai-pandai mengatur rasa pedas pada masakannya jika tidak ingin merugi.

Hal ini dikarenakan, sudah sejak sepekan lamanya, harga cabai rawit menembus harga Rp100.000 perkilo. Padahal, cabai rawit merupakan bumbu utama untuk memberikan sensasi rasa pedas dibanding jenis cabai lainnya.

Sumiati (40) pemilik warung makanan di Jalan AKBPM Soeroko, menyampaikan, biasanya semua menu makanan seperti sayur lodeh, bumbu bali, sambal dan lainnya menggunakan cabai rawit dengan jumlah yang banyak.

“Karena mahal ya jadinya cuma pakai cabe hijau kecil dan cabe keriting,” ujarnya disela-sela kegiatan memasaknya.

Meski rasanya agak berbeda dari biasanya, namun tidak ada jalan keluar lain untuk tetap mendapatkan untung. Banyak dari pelanggannya yang kebanyakan pegawai kantor dan karyawan swalayan memprotes rasa masakan yang kurang nikmat.

“Beda kalau pakai cabai rawit, pasti pedasnya enak. Kalau cuma pakai cabe ijo kecil sama keriting tidak ada pedasnya,” imbuhnya.

Hal yang sama juga dialami Bejo (35), penjual bakso keliling yang terpaksa menggunakan cabai ijo kecil dicampur cabai kering untuk sambalnya.

“Ya banyak yang protes, rasanya tidak pedas. Biasanya pembeli bisa ambil sendiri ya sekarang saya takar langsung biar tidak terlalu banyak ambilnya,” ujarnya sambil tertawa.

Pria asal jalan Basuki Rahmat ini berharap, harga cabai rawit merah segera turun. Jika tidak, akan ada kekhawatiran pelanggan berkurang. Karena, kebanyakan pembeli baksonya suka dengan rasa pedas.

Seperti diketahui, sampai saat ini, harga cabai rawit merah melejit hingga Rp100.000 perkilo, cabai merah keriting Rp50.000 perkilo, cabai rawit hijau Rp30.000 per kilo.

Menurut salah satu pedagang di pasar kota, Sriatun, mengungkapkan, pada hari Natal 2016 dan awal tahun baru 2017 harga semua bahan pokok termasuk cabai masih stabil. Tetapi, memasuki hari ketiga harga mulai merangkak naik hingga sekarang.

“Pasokannya sedikit, sementara pembeli banyak. Katanya, banyak petani cabai yang rugi karena tanamannya terendam banjir di akhir tahun lalu,” pungkasnya.(dwi/mcb)

Leave a Comment