Share

Harmoni Bernama Toleransi di Desa Kolong Bojonegoro

Bojonegoro (Media Center) – Bunyi karawitan mengalun dari sebuah Gereja Katolik Stasi Santa Maria di Desa Kolong, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro, pada Rabu malam, pekan lalu. Tak jauh dari tempat itu, jamaah dari Musholla Al Ihsan, khusyu sholat berjamaah di bulan Ramadan.

Tak ada yang aneh dari pemandangan dua tempat ibadah di desa berjarak sekitar 30 kilometer arah barat daya Kota Bojonegoro itu. Suara karawitan dan juga anak-anak mengaji di Musholla, beriringan. Suasana damai antar-umat beragama itu sudah berlangsung lamanya. Jarak kedua tempat ibadah tersebut tak lebih dari 70 meter panjangnya.

Tidak terganggu? “Tidak,” ujar pengurus Musholla Al Ihsan, Kusnaha, pada KanalBojonegoro, Kamis 16 Juni 2016. Dia menambahkan, justru para pelatih karawitan di Gereja itu adalah pemeluk Islam. “Kita saling menjaga,” imbuhnya.

Pun demikian, keterlibatan pemeluk Katolik di Desa Kolong, untuk bersosial juga tinggi. Jika ada yang meninggal dunia misalnya, warga Kristiani ini juga ikut datang ta’ziah hingga ke makam. Bahkan, tak jarang, mereka ikut membantu menggali kuburan. “Jadi, bertahun-tahun lamanya, kita hidup tenteram,” tandasnya.

Pihak pengelola Gereja juga kerap mengadakan kegiatan. Seperti bakti social, seperti perawatan gigi dan sejenisnya. Masyarakat beda keyakinan ini berbaur dan nyaris tidak ada jarak.

Sesuai data di Kantor Kecamatan Ngasem, warga Desa Kolong sebanyak 3396 atau 1072 Kepala Keluarga dan ada 56 Kepala Keluarga atau sebanyak 140 jiwa adalah Katolik. Mereka telah hidup puluhan tahun lamanya di eks desa yang dulu dikenal sulit air ini. Gereja Katolik Stasi Santa Maria ini dibangun sekitar tahun 1951 dan direnovasi pada 1984, dan lebih dahulu jika dibandingkan Masjid Mujahidin di Desa Kolong yang dibangun antara tahun 1990-an.

Samirin, pengelola Gereka Katolik Stasi Santa Maria Kolong, belum bisa dihubungi. Namun cerita soal berdirinya Gereja di Desa Kolong dan sejarahnya, dibenarkan warga Kolong.”Lebih dulu Gerejanya,” ujar Camat Ngasem, Mahmuddin pada KanalBojonegoro, Kamis 16 Juni 2016.

Mahmudin mengatakan, Desa Kolong bisa disebut sebagai percontohan toleransi umat beragama. Di desa tersebut, warga beda Agama ini bisa berbaur dan menghormati perbedaan menjadi sebuah perekat. Makanya pihak Kantor Desa, dan Kecamatan serta para pamong berikut tokoh agama untuk bergiat mempertahankan toleransi ini.

Bupati Bojonegoro Suyoto mengatakan, toleransi antar umat beragama di Bojonegoro, tentu bagian dari proses bagaimana daerah ini dibangun. Semangat untuk menciptakan hubungan kekerabatan antar-umat, seiring dengan Bojonegoro sebagai yang terpilih jadi kabupaten ramah HAM. “Ya, Desa Kolong, satu dari sekian contoh dari harmoni bertoleransi,” tegasnya. Dan, lanjutnya, potret toleransi ini bisa diikuti kampung dan desa lainnya di Bojonegoro.(*/mcb)

Foto: http://www.bethany.or.id/?p=2750

Leave a Comment