Share

Industrialisasi Migas Ubah Perilaku Warga Bojonegoro

Adanya proyek minyak dan gas bumi (Migas) di Lapangan Banyuurip Blok Cepu, membuat tatanan di masyarakat menjadi berubah. Wilayah yang awalnya sepi kini hiruk pikuk oleh aktivitas dari proyek Engineering, Procurement and Constructions (EPC).

Bojonegoro (Media Center) – Adanya proyek minyak dan gas bumi (Migas) di Lapangan Banyuurip Blok Cepu, membuat tatanan di masyarakat menjadi berubah. Wilayah yang awalnya sepi kini hiruk pikuk oleh aktivitas dari proyek Engineering, Procurement and Constructions (EPC).

Masyarakat sekitar yang mayoritas teribat dalam proyek mulai mengalami perubahan dari segi perekonomian. Tidak itu saja, Jalanan desa yang semula becek dan sepi, kini mulai beraspal atau berpaving dengan lampu penerangan cukup. Lingkungan desa pun menjadi ramai dengan denyut ekonomi bergairah.

Bahkan, perubahan kultural pun terjadi dengan adanya sekelompok orang kaya baru, profesi baru, hingga kebiasaan baru yang menurut sebagian orang dianggap tabu.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bojonegoro, Jauhari Hasan, menyampaikan, adanya industrialisasi migas memang merubah perilaku warga terutama bagi pemuda dari desa Ring 1 yang suka dunia malam. Hal itu sudah lama diamati para ulama di Bojonegoro.

“Sebenarnya adanya aktivitas dunia malam yang mengarah kemaksiatan sudah ada sejak dulu, hanya saja sekarang ini lebih meningkat,” tegasnya.

Dia menjelaskan, tugas MUI salah satunya adalah penegak amal ma’ruf nahi munkar dengan upaya peningkatan dakwah. Akan tetapi, tugas tersebut tidak hanya pada MUI saja, tetapi semua pihak baik itu masyarakat, para ulama, bahkan menjadi tanggung jawab bupati sebagai kepala daerah.

Jauhari Hasan menjelaskan, selama ini sudah melakukan peningkatan dakwah tidak hanya di wilayah sekitar pertambangan migas saja, tetapi se wilayah Kabupaten Bojonegoro.

“Apa yang mereka lakukan dengan adanya modernisasi sekarang ini adalah nafsu belaka, karena apabila modernisasi yang masuk saat ini tidak hanya mengarah pada hal positif saja tetapi juga negatif,” tukasnya.

Pria kelahiran Tuban ini menyatakan, manusia apabiila memiliki niat baik dan tidak menjerumuskan diri dalam kemaksiatan maka tidak akan terjadi hal-hal yang melenceng dari agama baik itu dunia malam, perselingkuhan, seks bebas, ataupun minum-minuman keras.

“Dimanapun berada, tidak hanya di desa sekitar tambang saja perilaku buruk itu terjadi, tergantung pribadi masing-masing,” imbuhnya.

Selama ini, pihaknya sudah berkoordinasi dengan Pemkab setempat untuk memberikan penyuluhan bagi masyarakat yang memiliki kebiasaan buruk seperti membuka warung remang-remang, tempat hiburan atau karaoke tanpa izin.

“Itu sudah kami lakukan dengan menggandeng Satpol PP,” tukasnya.

Meskipun begitu, saat ini Satpol PP yang seharusnya memberikan pelayanan terbaik di masyarakat kurang mampu memberikan fungsi sebagaimana mestinya. Bagaimana tidak, banyak tempat hiburan baik di sekitar Blok Cepu maupun Blok Tuban yang beroperasi tanpa ijin dibiarkan begitu saja. Pihaknya mengakui, banyak sekali short message service (SMS) yang dikirimkan kepadanya mengenai pengaduan permasalahan tersebut.

“Sekarang ini saya melihat Satpol PP kurang memberikan action-nya, karena MUI tidak memiliki wewenang menutup tempat-tempat yang dianggap maksiat,” tandasnya.

Imam di Masjid Besar Darussalam ini mengaku, selama ini belum ada program dari Pemerintah setempat kepada masyarakat di sekitar tambang khususnya para pemuda. Yang ada hanyalah kegiatan dakwah dan penyuluhan yang rutin dilakukan dari MUI sendiri.

“Memang kami memberikan dakwah dan penyuluhan, dan Alhamdulilah yang menghadiri juga banyak dari kalangan ibu-ibu dan bapak-bapak, sementara remaja jumlahnya masih kurang,” tandasnya.

Disinggung mengenai banyaknya tempat hiburan yang mendukung adanya kemaksiatan, Jauhari Hasan enggan berkomentar karena itu bukan wewenangnya. (re/*acw)

Leave a Comment