Share

Ingin Berwisata Murah Meriah, Datang Saja ke Wisata Edukasi Gerabah

Bojonegoro, Media Center – Wisata Edukasi Gerabah (WEG) menjadi salah satu alternatif untuk mengisi liburan tahun baru sekaligus libur sekolah.

Lokasinya berada di Desa Rendeng, Kecamatan Malo, Kabupaten Bojonegoro. Wisata yang berdiri sejak 2015 silam ini, mudah dijangkau dengan kendaraan roda maupun empat.

Jika dari arah barat (Bojonegoro – Padangan), bisa melewati pertigaan ringin kembar Desa Talok, Kecamatan Kalitidu, ke utara sekitar lima kilo meter. Sedangkan bila dari arah timur, bisa mengambil jalan tugu kelopak bunga Bundaran Jetak ke barat sampai pertigaan ringin kembar.

Di wisata edukasi gerabah ini, pengunjung bisa belajar langsung cara membuat beraneka macam bentuk celengan. Mulai dari proses awal hingga finishing.

Wisata edukasi gerabah dikelola Karang Taruna Satria Muda di bawah naungan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Karya Mulya Desa Rendeng.

Di wisata edukasi gerabah ini menyediakan sejumlah paket yang murah dan terjangkau. Yakni paket Rp10.000 meliputi tanah siap pakai, gerabah siap diwarnai, cat air, kuas, gerabah hasil praktik bisa dibawa pulang dan air mineral.

Paket Rp15.000 meliputi tanah siap pakai, gerabah siap diwarnai, cat air, kuas, gerabah hasil praktik bisa dibawa pulang, celengan cantik ukuran kecil dan air mineral.

Paket Rp20.000 meliputi tanah siap pakai, gerabah siap diwarnai, cat air, kuas, gerabah hasil praktik bisa dibawa pulang, celengan cantik ukuran besar dan air mineral.

Paket Rp25.000 meliputi tanah siap pakai, gerabah siap diwarnai, cat air, kuas, gerabah hasil praktik bisa dibawa pulang, celengan cantik ukuran kecil, nasi kotak dan air mineral.

Sementara untuk paket Rp30.000 meliputi tanah siap pakai, gerabah siap diwarnai, cat air, kuas, gerabah hasil praktik bisa dibawa pulang, celengan cantik ukuran besar, nasi kotak dan air mineral.

Selain itu, wisata edukasi gerabah juga memberikan fasilitas lain. Diantaranya, bebas biaya bagi siswa yatim/piatu, gratis souvenir bagi guru yang mendampingi, melayani kesepakatan (memorandum of understanding/MoU) dengan lembaga, piagam penghargaan untuk lembaga, dan patung wisata untuk lembaga.

“Pengunjungnya sebagian besar adalah anak-anak sekolah. Mulai PAUD/TK hingga tingkat SMA,” ujar Ketua Karangtaruna Satria Muda, Mujtaba, di temui di lokasi wisata edukasi gerabah, Minggu (29/12/2019).

Dijelaskan, wisata edukasi gerabah memiliki 60 trainer yang sudah mumpuni mendampingi pengunjung untuk belajar memproduksi gerabah. Ada 80 jenis gerabah yang diproduksi oleh 30 perajin.

“Untuk metode edukasi anak PAUD dan TK kita bedakan siswa SD hingga tingkat SMA. Bagi anak-anak TK hanya mencetak. Sedangkan bagi siswa SD sampai SMA pakai metode putar dan mencetak,” tuturnya.

Mujtaba mengaku pengunjung wisata edukasi gerabah setiap harinya rata-rata bisa mencapai 300 sampai 400 orang. Paling ramai adalah menjelang libur sekolah atau usai semesteran.

“Kemarin sebelum liburan sekolah sehari sampai seribu lebih pengunjung,” ucapnya.

Dari hasil pengelolaan wisata edukasi gerabah ini, 40% diberikan kepada perajin, 30% trainer, dan 30% kas.

“Kas ini masuk ke BUMDes untuk pendapatan asli desa atau PADes. Selain itu juga kegiatan sosial seperti keagamaan dan pemberian bantuan sembako kepada semua warga di sini,” ujarnya.

Selain itu, Karang Taruna Satri Muda juga bekerjasama dengan pengelola Kolam Renang Tirto Mangu di desa setempat. Bagi pengunjung yang ingin berenang bisa melalui karang taruna dengan tarif lebih murah.

Jika langsung ke kolam renang, kata dia, setiap pengunjung dikenakan tarif Rp5.000, tapi kalau melalui karang taruna hanya Rp4.000.

“Dari kerja sama ini kita mendapatkan seribu rupiah setiap orangnya yang kita masukan ke kas,” tandasnya.

Tabah, panggilan akrabnya mengungkapkan, wisata edukasi gerabah telah mampu meningkatkan enokomi perajin. Produksi gerabah yang sebelumnya lama terjual karena kesulitan pasar, sekarang cepat laku. Sebab, hasil produksi perajin yang ditampung pengelola menjadi satu paket wisata eduksi yang bisa dibawa pulang pengunjung maupun untuk souvenir.

“Setiap perajin seharinya bisa mendapatkan Rp140 ribu dari omset penjualan. Karena dari produk gerabah jenis sapi yang ukuran kecil kita beri Rp 700 per biji, dan Rp 200 untuk sapi ukuran besar,” jelasnya.

Selain meningkat pendapatan perajin, adanya wisata eduksi gerabah ini juga menumbuhkan usaha baru bagi warga sekitar. Warga selain memproduksi gerabah untuk disetorkan kepada pengelola, juga membuka warung makan dan minuman (mamin).

Ngadiroh, misalnya. Ia membuka warung mamin di depan lokasi wisata edukasi gerabah. Pendapatannya bisa mencapai Rp 1 juta per hari.

“Tergantung pengunjungnya. Kalau pengunjungnya ramai ya banyak yang jajan,” sambungnya dikonfirmasi terpisah.

Selain menumbuhkan usaha baru, wisata edukasi gerabah juga memberikan peluang tambahan pendapatan bagi penjual gerabah alat-alat rumah tangga. Seperti cobek, garingan, ngaron, kendi, wajan.

“Rata-rata setiap hari bisa laku 30 sampai 50 buah. Tergantung dari ramai ridaknya pengunjung,” pungkas Mbah Umini.(Dwi)

Leave a Comment