Share

Jadi Bupati-Wabup, Dua Siswi Pimpin Bojonegoro Sehari

Bojonegoro, 26/11 (Media Center) – Sehari ini roda pemerintahan Bojoegoro berbeda dengan hari-hari biasanya. Jika hari biasanya roda pemerintahan dipimpin oleh Bupati Suyoto dan Wakil Bupati Setyo Hartono, namun hari ini posisi tersebut digantikan oleh Siska Dwi Indrawati, siswi Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Model, dan Nadia Syahda, SMA Plus Al-fatimah.

Kedua siswi ini menjadi Bupati dan Wakil Bupati Bojonegoro sehari. Mereka sebelumnya telah melalui seleksi cukup ketat antar pelajar di Bojonegoro dalam program Kang Yoto Leadership Challenge (KYLC).

Dalam KYLC ini baik Siska maupun Nadia melakukan aktifitas dan menggunakan fasilitas yang digunakan Bupati dan Wakil Bupati Bojonegoro. Setelah dijemput dari sekolahnya masing-masing menggunakan mobil dinas dengan di dampingi ajudan, keduanya menuju kantor Bupati dan Wakil Bupati di lantai tujuh.

Setelah itu, keduanya memimpin rapat evaluasi kinerja dengan satuan kerja perangkat daerah (SKPD) di rumah dinas bupati, keduanya melakukan inspeksi mendadak ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sosrodoro Djati Koesoemo. Dilanjutkan ke rumah sakit di Jalan Veteran, dan di lokasi pembangunan jembatan Bojonegoro – Trucuk. Keduanya di damping kepala SKPD terkait.

Setelah melakukan sidak, keduanya kembali ke kantor. Mereka juga menerima sejumlah tamu dari SKPD dan memberikan disposisi atas surat-surat yang masuk.

Usai menjalani aktifitas layaknya bupati dan wakil bupati, keduanya kembali ke rumah dinas untuk makan siang dan istirahat.

Kemudian mereka memimpin dialog publik yang dilaksanakan di Pendapa setiap hari Jum’at. Banyak pertanyaan dan masukan yang disampaikan peserta dialog publik kepada mereka berdua.

Di antaranya Kusnan, dari Kecamatan Sukosewu yang mendukung program upah umum perdesaan (UPP) sebesar Rp1.005.000 yang nilainya jauh di bawah Upah Minimum Kabupaten (UMK) sebedar Rp1.400.000.

Kemudian Pelajar SMA Al-Fatimah yang menanyakan perhatian seperti apa yang akan diberikan pemkab terhadap siswa berprestasi di wilayahnya.

Juga Suton Ubaidilah, pelajar MAN Model yang menanyakan tentang program khusus untuk membentuk karakter generasi muda mengingat sekarang ini banyak pelajar yang bermain game di warung-warung kopi, dan pergaulan bebas.

“Bagaimana upaya pemerintah menangani hal itu,” kata dia.

Semua pertanyaan itu dijawab oleh Kepala SKPD yang hadir. Hal ini seperti yang dilakukan pada dialog-dialog publik sebelumnya.

Usai dialog, keduanya diminta Bupati Bojonegoro untuk menyampaikan kesan-kesannya setelah sehari ‘menjadi Bupati dan Wakil Bupati Bojonegoro’.

Siska Dwi Indrawati mengatakan, program seperti baru pertama dilaksanakan di Bojonegoro, bahkan mungkin satu-satunya di dunia.

“Program KYLC ini ada karena adanya ide kreatif dan brilian dari seorang bupati. Ini akan menjadi pengalaman berharga dan tidak akan saya lupakan seumur hidup saya,” kata Siska.

Selain itu, lanjut Siska, program KYLC ini sebagai bentuk open governmen partnership yang diwujudkan Pemkab Bojonegoro. Karena pemkab memberi kesempatan untuk mentransformasikan ilmu kepemerintahan kepada generasi muda, khususnya pelajar.

“Kalau pemkab tidak bersih tidak mungkin berani membuat program semacam ini. Untuk itu, saya harapkan program ini dilaksanakan setiap tahun,” pungkasnya.

Senada disampaikan Nadia Syahda. Dia mengaku mendapat banyak ilmu dari program ini. Karena tidak semua pelajar di Bojonegoro mendapatkan kesempatan seperti dirinya. Menjalani aktifitas, dan duduk di kursi bupati.

“Saya jadi tahu bagaimana tugas SKPD untuk mengatasi persoalan, memberikan pelayanan yang terbaik bagi masyarakatnya,” sambung Nadia.

Keduanya berharap kelak di masa yang akan datang, menjadi bupati sehari ini menjai kenyataan. “Semoga Bojonegoro menjadi Matoh, Makmur dan Moncer,” kata keduanya.

Bupati Bojonegoro Suyoto, mengapresiasi kepada kedua siswi yang berhasil menjadi bupati dan wakil bupati sehari. Menurut Kang Yoto-sapaan Bupati Bojonegoro, generasi muda Bojonegoro memiliki kemampuan luar biasa jika diberi kesempatan.

“Meski saya tidak mengikuti, tapi saya memanta mulai dari penjemputan di sekolah, memimpin rapat, sidak, hingga menerima tamu,” ujar Kang Yoto.

Bahkan Kang Yoto memuji keduanya ketika mempberikan saran agar petani Bojonegoro tidak bergantung pada pupuk dari pemerintah pada saat memimpin rapat evaluasi. Mereka menyarankan agar petani membuat pupuk sendiri seperti organik.

“Pemikiran seperti ini belum tentu dimiliki oleh anggota dewan yang sudah puluhan tahun,” puji Kang Yoto.

Menurut Kang Yoto, yang lebih menarik dari program ini adalah baik wakil bupati, sekda, asisten rela memberikan kursinya kepada peserta untuk ditempati. Selain itu, para peserta yang ikut seleksi KYLC juga mendukung peserta yang lolos.

“Kerelaaan memberikan kesempatan kepada junior untuk tumbuh dan perkembang inilah yang juga patut diapresiasi,” tegasnya.

“Juga antar rival saling mendukung. Ini sungguh mengemberikan, karena mental Generasi Bojonegoro lebih sehat. Ini hanya bisa dilakukan oleh orang yang sehat jasmani dan rohani,” lanjutnya.

Karena itu Kang Yoto akan menjadikan program KYLC ini sebagai agenda tahunan. Bahkan, dirinya merencanakan untuk KYLC tahun depan akan dimulai dari kampanye seperti yang dilakukan cabup-cawabup.

“Ini sekaligus sebagai pembelajaran untuk mengemplementasikan pendidikan pancasila,” pungkasnya.

Usia dialog Kang Yoto memberikan penghargaan kepada keduanya, dan beberapa siswa yang terpilih menjadi penasehat. Setelah itu kedua bupati dan wakil bupati cilik itu diantarkan ke rumahnya masing-masing dengan mobil dinas bupati dengan didampingi ajudan dan dikawal Satpol PP.(dwi/mcb)

Leave a Comment