Share

JOB-PPEJ: Insiden Bau Gas Berasal Dari Kegiatan “Water Inject”

Bojonegoro (Media Center) – Operator Lapangan Sukowati, Blok Tuban, Joint Operating Body Pertamina Petrochina East Java (JOB P-PEJ) menyampaikan, resiko di sektor minyak dan gas bumi adalah adanya penurunan produksi yang menimbulkan dampak-dampak teknis seperti munculnya bau.

Field Administration Superintendant JOB P-PEJ, Akbar Pradima, mengatakan, pada Minggu (17/1) lalu terjadi insiden yang mengakbatkan warga desa Ngampel, Kecamatan Kapas, Kabupaten Bojonegoro, merasa terganggu akibat bau yang muncul dari kegiatan walkover di Pad A.

“Adanya bau itu bukan suatu yang disengaja, tapi karena kegagalan teknologi,” kata Akbar saat menggelar pers release bersama media, Selasa (19/1).

Dia mengatakan, pada insiden yang mengakibatkan warga merasa pusing dan mual akibat bau yang muncul di Desa Ngampel, Kecamatan Kapas, tidak ada kaitannya dengan program- program baru. Bahkan, melakukan beberapa sosialisasi kepada masyarakat sekitar terkait kegiatan yang dilakukan.

“Tugas kami adalah meminimalisir resiko, baik dari sisi kesehatan maupun kenyamanan,” tegasnya.

Saat ini, pihaknya sedang mengupayakan peningkatan produksi dengan melakukan perawatan sumur-sumur secara maksimal. Salah satunya dengan proses water inject.

Bau gas yang keluar dari proses water inject tersebut. Namun pihaknya memastikan bahwa gas yang keluar itu tidak termasuk berbahaya.

“Gas yang keluar itu bukan gas beracun,” ujarnya.

Water inject sendiri dilakukan pihak operator untuk meningkatkan jumlah produksi. Sebab, kata Akbar, beberapa sumur yang ada di Pad A, Lapangan Sukowati itu lebih banyak kandungan airnya dari pada kandungan minyak.

Water inject ini pemisahan air dengan minyak. Airnya disalurkan ke sumur lain,” katanya.

Data tahun 2014 total 68 sumur yang dioperatori JOB PPEJ saat ini ada 36 sumur yang masih berproduksi. Kendala yang terjadi itu diantaranya karena naiknya kadar air yang ikut dalam proses pengeboran. Dari target produksi sebesar 27.000 barel perhari (bph) tercapai 23.500 bph.

Sehingga dengan projek water inject ini diharapkan bisa menaikkan kembali jumlah produksi. Saat ini, lanjut Akbar, jumlah produksi di lapangan Mudi, hanya 1.380 barel perhari (bph). Sedangkan di Lapangan Sukowati sebesar 14.562 bph. Namun karena warga sekitar lokasi Pad A merasa mencium bau gas sehingga proses water inject, great-nya diturunkan kembali.(dwi/mcb)

Leave a Comment