Share

JOB PPEJ: Rig Move Dihadang, Produksi Minyak Nasional Terhambat

Bojonegoro, 23/8 (Media Center) – Kas keuangan negara terancam kehilangan potensi meningkatkan produksi minyak dan gas bumi (migas) dari salah satu operator akibat penghadangan aktifitas produksi yang dilakukan Joint Operating Body Pertamina Petrochina East Java (JOB PPEJ), Minggu (21/8) lalu. Aktifitas moving rig merupakan upaya operator migas yang berproduksi di Lapangan Sukowati, Blok Tuban untuk meningkatkan jumlah produksi minyak secara nasional.

Namun, aktifitas tersebut terhambat karena sejumlah warga sekitar Lapangan Sukowati, PAD B Desa Ngampel, Kecamatan Kapas, Bojonegoro melakukan penghadangan.

Data terakhir Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebutkan, jumlah produksi minyak bumi nasional sekitar 830 ribu barel per hari pada kuartal pertama, Januari – Maret 2016. Sedangkan kebutuhan minyak bumi nasional mencapai mencapai 1,25 juta barel perhari (bph). Sehingga negara masih memiliki defisit minyak dan gas bumi (migas).

Menurut Field Administrations Superintendent, JOB PPEJ, Akbar Pradima, jika kegiatan moving rig tidak diizinkan, maka artinya negara akan kehilangan kesempatan untuk meningkatkan produksi minyak nasional dan berdampak pada penerimaan negara APBN. “Karena produksi akan terhambat,” katanya.

Kerugian negara yang timbul akibat penghadangan yang dilakukan sejumlah warga Desa Ngampel, Kecamatan Kapas, Kabupaten Bojonegoro itu timbul dari sewa rig dan pekerjaan produksi. Menurut Akbar, potensi kerugian negara untuk sewa rig per hari di luar manpower (sumber daya manusia/tenaga kerja) dan fuel estimasi berkisar antara Rp70 juta hingga Rp80 juta. “Itu belum kerugian di luar tenaga kerja dan fuel estimasi yang harusnya bisa diproduksi,” jelasnya.

Sedangkan, lanjut Akbar, meskipun pekerjaan produksi masih normal, namun pekerjaan well service/workover tidak bisa optimal. Pihak operator kini terus melakukan perawatan terhadap sejumlah sumur minyak yang masih memiliki potensi kandungan minyak untuk menjaga produksi dalam posisi menguntungkan. “Perbandingan pekerjaan service sumur yang lalu bisa menambah produksi mencapai 500 barel per hari,” ungkapnya.

Sementara itu, tambahnya, penghadangan warga yang disebabkan permintaan pencairan tali asih selama bulan September hingga Nopember 2015 senilai Rp75 juta, pihaknya tetap berkomitmen untuk merealisasikan program tersebut sesuai aturan.

Namun, lanjut Akbar, tujuh program fisik dan nonfisik Desa Ngampel harus didukung dengan dokumentasi dan berita acara penyelesaian proyek secara akuntabel dan benar.

“Kami akan melakukan pembayaran jika sudah ada tagihan secara resmi dari pihak desa sesuai dengan kesepakatan desa dan warga,” terangnya.

Diketahui produksi minyak yang dioperatori JOB PPEJ di Desa Mudi Rahayu, Kecamatan Soko, Tuban, dan Lapangan Minyak Sukowati di Kabupaten Bojonegoro mengalami penurunan. Produksi Lapangan Sukowati itu sempat mengalami puncak produksi hingga 69.707 bph, kini melorot hingga sekitar 15.000 bph.(mcb)

Leave a Comment