Share

Kampung Tumo Bojonegoro Sajikan Wisata Edukasi Pendidikan Pramugari

Bojonegoro, 13/7 (Media Center) – Terletak di tengah area perkebunan jagung dan tegakan jati milik warga, berdiri bangunan modern yang dijejeri beberapa gubug beratap ilalang. Bangunan inilah yang menjadi pusat kegiatan wisata edukasi yang telah berjalan beberapa minggu di Kampung Tumo, Desa Hargomulyo, Kecamatan Kedewan, Kabupaten Bojonegoro.

Tak sembarang wisata edukasi, edukasi yang ditawarkan di Kampung Tumo adalah kursus pendidikan bahasa Inggris serta pendidikan persiapan kerja yang mencakup perhotelan dan pramugari. Saat ini tercatat ada 25 anak didik di kelas pramugari yang berasal dari berbagai penjuru tanah air seperti dari Cilacap, Surabaya, Makassar hingga Maluku.

Priyo Martono (36), pendiri Kampung Tumo ini mengaku ada beberapa alasan yang mendorongnya untuk mendirikan lembaga pendidikan di lokasi yang berjarak kurang lebih 40 km dari pusat Kota Bojonegoro ini.

“Awalnya saya merasa miris sekali saat dua keponakan saya akan ujian bahasa Inggris, namun di sekolahnya justru tak ada guru bahasa Inggris,” ungkapnya pada kanalbojonegoro.com, Kamis (12/7).

Pria yang telah memiliki lembaga serupa di Pare, Kediri kemudian mulai merintis Kampung Tumo pada Sepetember 2012 lalu. Ia ingin membuat terobosan dengan mengusung prinsip “Desa rasa Kota” dengan menghadirkan lembaga pendidikan yang bisa dijangkau warga yang bahkan berada di pedesaan.

“Walaupun sekolahnya di desa, namun kita komitmen menghadirkan pengajar yang mumpuni sehingga ilmu yang diberikanpun tetap terbaru,” jelasnya saat mengenalkan beberapa tenaga pengajar yang direkrut langsung dari Kampung Inggris di Pare, Kediri.

Untuk 25 anak didik yang kini tengah ia bina, Priyo menggandeng warga setempat yang mau menyediakan “Homestay” atau tempat tinggal sementara bagi para peserta kelas pramugari yang akan berlangsung selama tiga bulan. Ia menuturkan, hingga saat ini ada tiga rumah warga yang disediakan untuk tempat tinggal sementara para peserta pendidikan.

“Bahkan, ada warga yang rela menjual sapi untuk merehab rumah yang akan digunakan homestay,” imbuh bapak dari tiga orang anak ini.

Tak hanya untuk urusan akomodasi, pria yang juga pramugara aktif di salah satu maskapai internasional ini juga menggandeng warga untuk menyediakan makanan untuk dikonsumsi peserta sehari-hari.

“Warga saya tawari untuk catering. Masing-masing seminggu untuk menyuplai makanan bagi anak-anak disini,” urainya di tengah waktu istirahat makan siang.

Untuk makin memberdayakan warga sekitar, ia tengah menyiapkan pembangunan camping ground yang sekiranya akan selesai dibangun di akhir Agustus mendatang. Ia berharap, nantinya camping ground ini akan menjadi jujugan para turis yang berwisata di sumur tua Teksas Wonocolo yang hanya berjarak 10 menit berkendara.(*mcb)

Leave a Comment