Share

Kang Yoto: Indahnya Kemitraan, Belajar dari Perjalanan Bojonegoro

Kang Yoto, mengapresiasi partisipasi masyarakat dalam hal keterlibatannya dalam membangun Bojonegoro, berikut isi pidato Kang Yoto dalam konferensi yang diikuti oleh 500 lebih delegsai negara asia pasifik

Bojonegoro (Media Center) -Bupati Bojonegoro, Drs H Suyoto MSi (Kang Yoto) menjadi pembicara dalam pembukaan Konferensi Asia Pasific di Nusa Dua Bali. Dalam pembukaan tersebut, Kang Yoto, mengapresiasi partisipasi masyarakat dalam hal keterlibatannya dalam membangun Bojonegoro, berikut isi pidato Kang Yoto dalam konferensi yang diikuti oleh 500 lebih delegsai negara asia pasifik dan dihadiri oleh Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono. (or read english version)

Indahnya Kemitraan, Belajar dari Perjalanan Bojonegoro

Yang terhormat hadirin yang telah bersedia meluangkan waktunya untuk mendengarkan

Pertama-tama, saya ingin mengucapkan terima kasih atas kesempatannya untuk berbagi pengalaman dalam hal keterbukaan dan kemitraan antara pemerintah dan masyarakat yang terjadi di Bojonegoro. Bojonegoro adalah 1 dari 500 kabupaten yang ada di di Indonesia, dan menjadi bagian dari gerakan demokratisasi Indonesia yang dimulai dari tahun 1998 sampai sekarang.Pada 2007, ada 1,2 juta orang yang tinggal di Bojonegoro, dan sebagai daerah otonomi, kami memiliki kesempatan untuk mengatasi masalah kita sendiri dengan sumber daya kita sendiri .

Sejak dahulu, Bojonegoro telah berhadapan dengan banyak tantangan, yakni:
Kemiskinan (28 % dari total penduduk).
Tanah gerak yang memebuat jalanan di Bojonegoro selalu mengalami kerusakan.
Langganan banjir dan kekeringan yang terjadi setiap tahunnya.

Di sisi lain , Bojonegoro memiliki sumber daya alam yang melimpah ;
20 % dari minyak nasional dihasilkan dari Bojonegoro, dan tinggal menunggu waktu untuk eksplorasinya
Pertanian yang 44 % dari wilayah Bojonegoro terdiri dari hutan pohon jati.
Keduanya, migas dan hutan adalah milik negara atau pemerintah pusat

Saya lahir di Bojonegoro, tapi untuk 25 tahun saya harus meninggalkan daerah ini, saat itu saya bertanya pada diri sendiri apa yang saya inginkan ? Apakah sebagai penonton , pemain atau komentator ? Saya memutuskan untuk menjadi seorang pemain aktif ! Saya memutuskan dan ditakdirkan menjadi Bupati. Meskipun saya tahu tidak mudah untuk menjadi pemenang, ketika saya masih seorang calon pemimpin Kabupaten Bojonegoro, saya menemukan fakta : persepsi masyarakat lokal tentang layanan, mereka mengatakan tidak baik, dalam aspek keuangan tidak ada cukup dana, sementara pemerintah sebelumnya cenderung menghabiskan uang untuk tujuan layanan non – publik.

Tidak adanya ruang komunikasi publik, membuat tiba-tiba banyak pejabat melakukan tindakan korupsi, rendahnya kualitas birokrasi lokal dan ketidakpercayaan publik pada birokrasi banyak terjadi. Lalu, saya mencoba untuk memahami mengapa semua masalah bisa terjadi ? Saya pikir itu adalah akibat dari pemutusan, ada pemutusan antara pemerintah daerah & masyarakat disana; antara pemimpin & pengikut ; antara pusat & pemerintah daerah ; antara perencanaan & masalah .

Mereka terputus satu sama lain karena mereka datang dengan ego, suka berdebat daripada dialog dan memilih pergi dengan diri mereka sendiri daripada bersinergi dengan pasangan.

Saya beruntung, karena akhirnya saya terpilih dalam Pemilu. Ketika saya mulai menjalankan wewenang, tantangan terberat saya adalah sebenarnya bagaimana memastikan bahwa pemerintah akan menjadi bagian dari solusi. Dan yang kedua adalah bagaimana memfasilitasi semua sektor; bisnis, organisasi sipil, masyarakat. Untuk membuat mereka bergandengan tangan dengan pemerintah dalam mengatasi masalah dan menciptakan kesejahteraan untuk semua.

Dan yang paling penting adalah bagaimana menyambung kembali semua sektor dan stake holder, antara masalah dan program.

Ketika saya datang ke kantor, saya menyadari bahwa menemukan cara agar saya terhubung dengan stake holder akan menentukan kemampuan kita dalam mengatasi tantangan:
Saya harus mengelola staf yang sebagian besar dari mereka tidak mendukung saya dalam pemilu . Tapi kemudian saya menyadari bahwa saya membutuhkan mereka untuk memberikan pelayanan publik bagi semua orang, baik mereka mendukung saya atau tidak dalam pemilu.

Jangankan memecat mereka, saya kemudian memberi mereka pengampunan politik dengan menyatakan bahwa tidak ada yang akan kehilangan posisi mereka hingga bulan keenam. Saya meminta mereka untuk menjadi tim saya dalam mewujudkan memberikan janji-janji politik saya kepada masyrakat dengan kondisi ‘tiga tidak’ : tidak mengeluh, tidak korup, dan tidak pernah mengatakan “tidak tanggung jawab saya” untuk semua masalah yang datang.

Pada awalnya saya lebih suka lebih mendengarkan dari pada memerintah mereka, saya menggunakan cara yang sama dengan konsep perwakilan rakyat, yakni lebih banyak mendengarkan daripada berbicara. Saya mencoba untuk menciptakan ruang yang lebih luas bagi politisi dengan semangat baru: transparansi.

Saya melihat anggaran pemerintah daerah sangat terbatas ditambah lagi dengan rendahnya tingkat kepercayaan masyarakat setempat terhadap pemerintah. Sebagai politikus, saya benar-benar tidak mau kehilangan kepercayaan publik.

Saya harus tetap berhubungan dengan semua pendukung dan konstituen saya, sementara saya berharap agar diterima oleh kelompok lain. Untuk alasan ini saya memberi mereka akses langsung ke saya. Saya memberikan nomor telepon selular saya kepada publik dan alamat media sosial lain ; Saya menyelenggarakan dan menjadi tuan rumah dari dialog publik yang diselenggarakan pendopo kabupaten setiap Jumat jam 13:00 sampai jam 15:00, dan itu disiarkan secara langsung di dua stasiun radio.

Semua orang akhirnya merasa bebas untuk berbicara mengenai keinginan mereka, secara langsung di hadapan kepala divisi pemerintah daerah dan badan-badan yang selalu hadir, termasuk saya dan wakil saya.

Sekali lagi, saya lebih memilih untuk banyak mendengarkan daripada berbicara, saya terus pergi ke sekitar kabupaten seperti yang saya lakukan dalam kampanye. Setelah 3-6 bulan, saya melihat situasi baru, bahwa kita semua harus takut untuk tidak jujur ​​kepada orang lain.

Kami mencoba untuk mengevaluasi program perencanaan anggaran kami dalam dokumen anggaran untuk memastikan bahwa itu benar-benar terhubung dengan kebutuhan masyarakat. Kami juga membuka kesempatan bagi semua orang untuk bergabung dalam dialog publik untuk mengusulkan kebijakan pembangunan Bojonegoro dari segala level (dari desa, kecamatan, dan kabupaten) .

Sebagai bagian dari transparansi, kami sampaikan kepada publik mengenai estimasi pendapatan mendatang dan kami membuka mekanisme untuk setiap proposal dan yang ingin mengkritik, serta kami memilih yang paling penting sebagai prioritas kami untuk dilakukan terlebih dahulu.

Kemudian kami membawa hasilnya ke DPRD untuk disahkan sebagai peraturan pemerintah, kami menyadari bahwa transparansi membantu kita untuk saling percaya, akuntabilitas timbul dari hubungan antara sekarang dan masa depan, dan itu membuat banyak peluang muncul.

Bagaimana kemitraan yang paling kuat ? Sekarang kita memasuki tingkat yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya, kami mampu memecahkan masalah dengan lebih baik, saya ingin menunjukkan 3 kasus bagaimana kita mengatasi masalah dan kendala , dan bagaimana kemitraan menjadi yang paling kuat :

1. Pada tahun 2014 kita menjadi juara umum untuk manajemen bencana di tingkat nasional (penghargaan dari komite nasional untuk penanggulangan bencana / BPMPD)
2 . Kami berhasil mengatasi dan mengelola konflik sosial dalam proses eksplorasi minyak dan gas.
3 . Pada 2013 kami memenangkan penghargaan pembangunan berkelanjutan pada keterlibatan masyarakat dalam hal program pembangunan jalan, pemberian oleh SDSN PBB (Solusi Pengembangan Pembangunan Berkelanjutan PBB, bekerja sama dengan SDSN Indonesia).

Selanjutnya saya akan menunjukkan contoh bagaimana kita menghadapi masalah dan mengkoneksikan pemangku kepentingan untuk terlibat dalam kasus itu. Selama bertahun-tahun, kami menghabiskan banyak uang untuk membangun dan memelihara jalan aspal, tapi untuk wilayah Bojonegoro jalan aspal akan lebih mudah rusak dan memerlukan biaya pemeliharaan rutin yang lebih tinggi, padahal masyarakat tidak bisa menangani pemeliharaan secara swadaya secara langsung, tergantung sepenuhnya pada pemerintah .

Dan anggaran pemerintah terbatas, jadi kami memutuskan untuk melibatkan masyarakat sebagai mitra kami dalam hal menggunakan paving untuk pembangunan jalan. Lali kami mengembangkan 4 mekanisme :
1) Paving block dan biaya yang disediakan oleh pemerintah daerah , masyarakat mengawasi
2 ) Paving blok dari pemerintah daerah , biaya tenaga kerja dan bahan-bahan lain dari partispasi masyarakat
3 ) Mesin pembuat paving berasal dari pemerintah daerah , bahan lain dan tenaga kerja untuk paving disediakan dari partisipasi masyarakat
4 ) Paving jalan dibangun murni oleh masyarakat atau inisiatif lokal.

Ini adalah beberapa foto dari mekanisme tersebut, dan hasilnya adalah kita sekarang memiliki jalan yang lebih baik, dan masyarakat menjadi bahagia dan merasa mempunyai tanggungjawab untuk pemeliharaan bersama dengan pemerintah daerah .

Saya ingin menutup uraian saya dengan memetik pelajaran dari perjalanan Bojonegoro:

“Kemitraan hanya akan datang jika ada hubungan antara kita, kita harus memiliki niat yang sama untuk siap membuka pikiran, hati yang terbuka, berniat terbuka, dan siap untuk terlibat sebagai pencipta inovasi. Apa yang kita lakukan sebenarnya merupakan Transformasi dari Ego System untuk Eco System. Dan kita berkeyakinan, dengan kekuatan ” KITA “. Semua rintangan dan ancaman bisa diatasi, dan masa depan yang cerah dapat dicapai bersama-sama!
Terima kasih
Suyoto
Bupati Bojonegoro Indonesia

Leave a Comment