Share

Karya Perajin Bojonegoro Rambah Pasar Nasional

Bojonegoro, 25/10 (Media Center) – Senyum simpul merekah di sudut bibir pria tua saat pengunjung menghampiri stand berisi beberapa kerajinan hasil tarian jemari keriputnya.
Santoso, asal Desa Padangan Kecamatan Padangan Kabupaten Bojonegoro, Jawa TImur, langsung menawarkan beberapa kerajinan berupa Wayang Thengul dan bermacam miniatur kendaraan yang terbuat dari bambu.

“Saya membuat wayang sejak tahun 1968,” ujar pria berusia 73 tahun ini.

Sebelum andal membuat wayang, Santoso berprofesi sebagai Dalang. Semakin lama, keinginan untuk membuat wayang sendiri semakin kuat. Sehingga, tidak hanya berbagai macam tokoh wayang yang dibuat, tapi juga berbagai macam wayang seperti wayang kulit, wayang krucil, dan lain sebagainya.

“Saya buat wayang itu otodidak,” tukasnya.

Selama bertahun-tahun saat pagelaran wayang masih menjadi favorit masyarakat Indonesia, Santoso muda banyak kebanjiran order. Bahkan, pernah mendapat pesanan dari Presiden Soeharto kala itu sebanyak satu kotak wayang kulit.

“Saya pernah pegang uang, laba dari jual wayang itu Rp53 juta. Jumlah itu tergolong besar,” imbuhnya.

Namun, berkembangnya jaman apalagi di era milenial sekarang ini kesenian wayang kulit tidak lagi sebanyak dulu. Satu bulan terkadang laba yang diperoleh antara Rp3.000.000 sampai Rp1.500.000.

“Berapapun tetap saya terima,” tandasnya.

Untuk itulah, bersama salah satu anaknya, Santoso mencari inovasi baru membuat kerajinan tangan lainnya. Yakni, miniatur kendaraan dari bahan bambu.

Selain bahannya mudah didapat, laba yang diperoleh lumayan besar. Karena, hanya membutuhkan modal sedikit.

“Ini saja, saya bawa ke pameran sudah laku semua bawa sepuluh,” lanjutnya.

Melalui pameran yang digelar IKKON Bekraf bersama Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja inilah, Santoso dan beberapa  perajin lokal lainnya bisa belajar mempromosikan produknya melalui sistem online.

“Saya sangat terbantu dengan pameran kali ini, selain mendapat ilmu dari tim IKKON Bekraf yang mengajari memodifikasi hasil kerajinan juga membantu cara penjualan ke seluruh negeri,” pungkasnya.

Poppy Savitri dari Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf)mengapresiasi Pemkab Bojonegoro serta respon positif dari para perajin.
Selain memiliki semangat luar biasa diharapkan ekonomi kreatif mampu menambah nilai jual dan nilai tambah.

“Kami berharap, pendampingan selama empat bulan kepada para pengrajin di Bojonegoro menjadi nilai ekonomi yang akan meningkatkan nilai kesejahteraan,” pungkasnya.

Untuk diketahui, dalam gelaran Jonegoroan Creative Fair yang diselenggaraan selama tiga hari Sabtu (21/10/2017) sampai Senin (23/10/2017) kemarin transaksi yang dilakukan para pengrajin melalui Google, Qlapa, dan Tokopedia mencapai Rp77 juta.

Artinya, 57 perajin dari berbagai wilayah di Bojonegoro seperti perajin batik, onix, gerabah, telah berhasil menjual produknya melalui situs online. (*dwi/mcb)

Leave a Comment