Share

Karyawan El Nusa Asal Bojonegoro Berbagi Cerita

Bojonegoro (Media Center) – Tenaga perminyakan dari Bojonegoro, meski hanya lulusan SMA ternyata diakui oleh beberapa pihak. Semangat yang tinggi dan kemampuan yang tak kalah dengan lulusan perguruan tinggi menjadi salah satu hal yang diakui.

Hal ini disampaikan oleh 12 orang yang kini bekerja di perminyakan yang juga lulusan dari El Nusa. Ketika berbagi kisah dan cerita bersama Bagian Humas dan Protokol Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, Senin (11/1) pagi tadi di Ruang Meliwis Putih.

Dituturkan oleh Jurais Al Qorni, karyawan Os di Pt El nusa sebagai Roughneck atau operator lantai bor, bahwa tenaga dari Bojonegoro tak bisa dipandang sebelah mata. Komitmen dan totalitas menjadi hal utama saat bekerja selain itu kemampuan mereka meski hanya lulusan SMA secara ketrampilan sama dengan lulusan dari perguruan tinggi.

“Mungkin kita kalah di teori namun ketrampilan dilapangan sama bahkan secara mental lebih,” ujarnya. Jurais Al Qorni menceritakan dirinya sebelum terpilih untuk mengikuti pendidikan di El Nusa hanyalah sebagai buruh cuci motor di wilayah Kalitidu,” ujarnya.

Kemudian sempat pula merantau di Jakarta dan tahun 2010 memilih untuk kembali di Bojonegoro dan bekerja dipabrik paving. Mimpi seakan menjadi nyata ketika pemerintah membuka pelatihan dan sertifikasi yang digagas oleh Pemkab Bojonegoro dengan PT El Nusa .

Dari 800 pendaftar dirinya termasuk beruntung terpilih untuk mengikuti diklat selama enam bulan. Lagi-lagi nasib baik memang bernaung padanya, anak dari Bapak Ngatijan ini akhirnya berhasil direktur untuk bekerja di EL Nusa.Pengalaman berharga kali pertama terjun dibidang perminyakan adalah bekerja dilepas pantai dan harus menaklukkan angin dengan kecepatan 37 knot selama beberapa hari.

Hal senada juga dituturkan oleh Muhamad Nur Rokhim, lulusan SMA PGRI Ngambon. Ditahun 2009 lalu, dirinya tak pernah menyangka jika kini bekerja di sektor minyak. Sebelumnya pria kelahiran 1991 ini pernah bekerja sebagai security dan tukang batu di Surabaya.

Berbekal informasi yang didapatkan dari siaran radio, dia mencoba peruntungan untuk mendaftar mengikuti pelatihan di bidang perminyakan. Ternyata dirinya sama beruntungnya dengan 20 anak Bojonegoro yang juga mendapatkan kesempatan emas untuk dididik di EL Nusa. Enam bulan mengeyam pendidikan dan teori di Sentul.

Kemudian dia langsung diterima bekerja di El nusa sebagai Drilling dan Olilfield service. Pengalaman kali pertama bekerja di lepas pantai takkan dilupakannya. Bagaimana tidak, menghadapi ombak besar dan mabuk laut harus ditaklukkan selama dua minggu. Dengan sedikit kelakar dia menyatakan jika orang indonesia dikenal dengan nenek moyang seorang pelaut. Tidak bagi dirinya yang nenek moyangnya seorang petani maka kali pertama bekerja di lepas pantai diharus menaklukkan mabuk laut. Pengalaman lainnya yang menjadi hal mengesankan adalah dua minggu tak mandi karena pasokan air yang tidak ada saat musim el nino.

Sementara itu Joko Sriwono dalam pertemuan ini mengharapkan agar pertemuan semacam ini tak hanya sekali ini dilakukan.Selain itu banyak warga Bojonegoro yang sukses bisa mendapatkan kesempatan untuk berbagi cerita. Tak hanya itu dirinya mengharapkan agar kedepan Pemerintah menyediakan pendidikan dijenjang perguruan tinggi di bidang perminyakan. Menurutnya SMK perminyakan sudah ada kedepan agar tahun depan pemerintah merealisasikan perguruan tinggi.

“Apalagi kekayaan sumber daya alam di Bojonegoro sangat luar biasa,s eyogyanya dalam pengelolaannya melibatkan putra dan putri Bojonegoro,” tukasnya.

Sedangkan Muhammad Syahri Avriadhon menyampaikan bahwa tenaga-tenaga Bojonegoro banyak mendapatkan pengakuan, tak sekedar motivasi hidupnya yang tinggi akan tetapi mudah menerima pembelajaran. Selain itu kemampuan yang tak jauh berbeda dengan lulusan perminyakan dari beberapa perguruan tinggi.

Dia mengharapkan kepada generasi muda Bojonegoro agar membekali diri dengan kemampuan. Kepada pemerintah pelatihan tak sekedar pelatihan namun ada legal formalitas yakni s ertifikasi yang bisa diakui dan bisa dijadikan bekal untuk melamar pekerjaan.

Ini adalah bukti nyata bahwa generasi emas Bojonegoro sudah menampakkan kualitasnya, burung-burung kecil itu kini telah menjelma menjadi elang yang siang mengarungi samudra mengepakkan sayap tak hanya di angkasa Indonesia akan tetapi menjelajah cakrawala.(dwi/mcb)

Leave a Comment