Share

Kedewan Berpeluang Gelar Festival Rambutan

Bojonegoro, Media Center – Agrowisata baru di Kabupaten Bojonegoro terus bermunculan. Setelah ada kebun Belimbing, Jambu Kristal dan Salak, sekarang ini ada kebun rambutan.

Lokasinya berada di Desa Beji, Kecamatan Kedewan. Sekitar objek wisata geopark atau wisata Teksas Wonocolo.

Kebun rambutan di Desa Beji tidak menjadi satu area seperti kebun belimbing, ataupun jambu kristal. Melainkan berada di tanah pekarangan warga.

“Sebagian besar warga setempat memiliki pohon rambutan,” ujar Kepala Desa Beji, Rahayu Ningsih, dihubungi Minggu (29/12/2019).

Pohon rambutan di Desa Beji ditanam mulai 2011. Ada 600 bibit bantuan Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Bojonegoro. Namun yang hidup sekira 100 pohon.

Pohon rambutan di Desa Beji hingga sekarang ini telah panen enam kali. Panen terakhir pada bulan November 2019 kemarin. Produksinya ada yang dijual warga ke pasar. Namun ada juga dengan secara petik sendiri.

“Biasanya yang petik sendiri anak-anak sekolah,” ucap Bu Ning, sapaan akrabnya.

Selain rambutan, lanjut dia, sedang dipersiapkan 100 bibit apokat untuk ditanam. Sehingga nantinya bisa menjadi agrowisata baru yang bisa mendukung wisata geopark Wonocolo.

“Harapan kami seperti itu. Di sini ada agrowisata yang bisa menciptakan peluang usaha dan kerja sehingga dapat meningkatkan perekonomian warga,” pungkas Bu Ning.

Rambutan Desa Beji menjadi salah satu suguhan pada Festival Geopark yang dipusatkan di Wisata Texsas Wonocolo, Minggu (8/12/2019) lalu. Wakil Bupati Budi Irawanto bersama istri dan sejumlah Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD).

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bojonegoro, Amir Syahid berharap budidaya rambutan di Desa Beji kedepan terus berkembang dan dikelola dengan baik menjadi sebuah agrowisata baru di Bojonegoro.

“Selama ini sudah ada festival Belimbing dan Salak, semoga nanti di Kecamatan Kedewan menyusul ada Festival Rambutan,” harap Amir saat menghadiri Festival Geopark.

Menurutnya, wilayah kedewan harus memiliki agrowisata untuk mendukung keberadaan geopark migas wonocolo. Sehingga wisatawan yang datang tidak hanya menikmati pengeboran minyak yang ditambang secara tradisional.

“Ini nantinya bisa saling mendukung, dan memberikan multiplier efect yang bisa menumbuhkan ekonomi dan mempercepat kesejahteraan masyarakat,” tegasnya.

Untuk diketahui, Geopark Bojonegoro merupakan salah satu geopark nasional. Kawasan geopark Bojonegoro ini resmi memperoleh sertifikat geopark nasional sebagai kawasan cagar alam geologi dari Badan Geologi, Kementerian ESDM pada 2017 lalu. Dengan areal seluas 23 kilometer persegi dan dihuni 1400 jiwa, Kawasan Geopark Bojonegoro menjanjikan wisata alam khususnya berupa hamparan minyak yang menyatu dengan kebudayaan setempat.

Selain hamparan minyak, masih ada destinasi wisata yang juga tersebar di Kawasan Geopark Bojonegoro. Di antaranya, struktur “Antiklin” Kawengan bagian puncak antiklin, bagian sayap kanan dan sebagian sayap kiri, semuanya di Kecamatan Kedewan.

Selain banyak dikunjungi wisatawan, selama ini kawasan Geopark Bojonegoro juga kerap dijadikan sebagai laboratorium alam oleh perguruan tinggi ternama dengan belajar langsung. Mereka biasanya akan terkonsentrasi di kawasan hamparan minyak. Di kawasan ini, terdapat sejumlah titik yang kerap dikunjungi seperti pertambangan minyak yang telah dikelola selama 110 tahun.

Ada pula keunikan lain geologi yang berada di kawasan ini adalah batuan reservoar penghasil minyak bumi pada kedalaman rata-rata +100 meter di bawah permukaan tanah (kedalaman reservoir berada diatas permukaan air laut).

Semua itu membuktikan bahwa minyak bumi di Wonocolo merupakan reservoar terdangkal di Indonesia bahkan dunia. Di sini, terdapat 700 sumur minyak yang 200 sumur di antaranya ditambang secara tradisional.(Dwi)

Leave a Comment