Share

Kekuatan Niat Baik

Catatan perjalanan mengikuti Global Forum, Presencing Institut, MIT Boston, USA, 11-12 Februari 2014) Ditulis dalam perjalanan New York-Indonesia, 14 Februari 2014, Penulis adalah Bupati Bojonegoro

Oleh: Kang Yoto

u-democracy bojonegoroDiundang menjadi pembicaraan-pembicaraan di sebuah forum dunia adalah sebuah penghormatan yang luar biasa.Sesi pertama tentang Bojonegoro dihadapan 250an peserta dari 28 negara dan ribuan lagi yang mengikuti lewat streaming.Lalu sesi kedua adalah sesi khusus yang hanya diikuti sekitar 40an peserta.

Dalam sesi pertama,saya diminta menjelaskan bagaimana transformasi demokrasi terjadi di Bojonegoro.Bagaimana asal muasal dan pengelolaan demokrasi yang secara langsung melibatkan seluruh stakeholder.

Dalam sesi kedua ,saya memberikan sebuah contoh bagaimana melaksanakan sebuah pembangunan oleh semua dan untuk semua.Yakni pavingisasi jalan di Bojonegoro.

Pada sesi pertama,saya menjelaskan bagaimana meraih kekuasaan dengan cara murah, bagaimana mensinergikan seluruh potensi sosial,bagaimana praktek demokrasi yang bersifat langsung, dialog, sinergi dan berbagi peran.Satu lagi bagaimana membangun akar sipritual demokrasi lewat ajaran agam.Untuk terakhir ini,saya menjelaskan universalitas surat Al Fatihah.

`Berbagai tanggapan saya terima, baik yang langsung maupun media sosial.Dari twiter, saya mencatat beberapa respon :

Richard windows@ourfoodfuture:
wow its not everyday I get insipires listening to US politicain.keep up the good work

Haveaniceday@T_indignadx@bensmith1978
I wold like to think that hierarchy is outdated,even at tha time of address ing issues

Bejamin smith:@bensmith 1978
dose Kang Yoto show us that the core issue is not economic sytem but the policat one

Julie Arts@artsofsensing
KangYoto,a brave policitian from Indonesia , sharing his storyat pesen cing ….picture

Bahkan dua orang pesertadari Luthuania menghampiri untuk mengundang saya memberi ceramah untuk pelatiahn kepimpinan mereka .Apresiasi yang sungguh tidak pernah terbayangkan sebelumnya.Seorang kawan bahkan sempat nyeletuk:”Kang Yoto mengajarkan demokrasi baru kepada dunia”

Dalam keheningan bersyukur,saya berharap mudah-mudahan kegiatan kecil ini sedikit memberi makna buat Indonesia.

Tapi mengapa semua ini bisa terjadi?Sampai lulus kuliyah saya tidak pernah membayangkan menjadi politisi.Cita-cita waktu kecil menjadi supir bus,lalu meningkat menjadi guru.Lima tahun yang lalu saat awal menjabat bupati terbayangpun tidak akan sampai di sebuah forum internasional seperti ini.

Di atas pesawat , perjalanan kembali ke Indonesia ,saya mencoba merangaki peristiwa demi peristiwa.Sebuah kehormatan dapat tampil d forum internasional.Saya peroleh undangan ini karena Otto Schamer dosen senior di MIT.

Tapi mengapa ia mengundang?Karena pernah melakuakan penelitian di Bojonegoro.Bagaimana bisa melakukan penelitian di Bojonegoro?karena kita di Bojonegoro melakukan sesuatu perubahan sosial politik yang menurutnya luar biasa.

Sebuah demokrasi yang beusaha menempatkan kebahagiaan semua sebagai tujuan bersama,dan mengelolah demokrasi benar-benar bersifat langsung ,nyambung dan saling belajar bekerja mencapai masa depan bersama yang lebih baik.Demokrasi yang tidak mementingakan ego dan kompetesi semata. Praktek inilah yang menurut Otto yang diperluakan dunia saat ini.

Bukankah praktek seperti iti sangat mungkin juga di laksanakan di daerah lain? Benar!Lalu mengapa Bojonegoro?Salah satu karena saya pernah menjadi peserta pendidikan MIT dan Otto menjadi mentor utamanya.

Saat itulah saya mengajukan Bojonegoro menjadi prototype untuk tugas kelompok.Kawan-kawan saya seangkatan setuju, ada Tantowi Yahya, Adi Harsono, Aditya Wishesa, Robert, Arlinda,Arief.

Topik yang diangkat sebenarnya tidak terkait langsung dengan demokrasi,yakni,improving public service and eridicating corruption.

Sepanjang enam bulan dengan dukungan teman staf Pemkab Bojonegoro prototype itu dilaksanakan.Dalam presentasi akhir kelompok itulah, Otto dan fasilitator lainnya tertarik. Maka pada global forum pertama, kami dapat undangan menghadiri dan sempat diminta menjadi pembicara.

Berarti keikut sertaan saya dalam program IDEAS kerja UID Indonesia dan MIT menjadi salah satu sebabnya. Pertanyaannya mengapa saya bisa ikut? Tentu karena lulus tes seleksi, tapi bagaimana bisa ikut seleksi dan berani dengan bahasa Inggris yang terbatas. Karena ada yang merekomendasi dan meyakinkan. Lalu mengapa ada yang merekomendasi dan meyakinkan? Saat saya tanya kepada yang bersangkutan karena tertarik dengan kesungguhan upaya yang saya lakukan di Bojonegoro.

Lalu kenapa saya mencoba bersungguh melakukan segala upaya pembangunan ekonomi, sosial, lingkungan, reformasi birokrasi dan terutama menempatkan masyarakat sebagai bagian penting sinergitas pembangunan. Terpaksa, karena sudah menjadi bupati dan tidak ingin malu. Tentu tidak cukup itu!

Apakah saya akan direkomendasi seandainya tidak menjabat Buparti? Pasti tidak. Lalu kenapa bisa menjadi bupati? Karena ada banyak sekali orang yang rela mendukung dengan segala pengorbanan dan partai yang mengusung.

Tapi mengapa saya dipercaya menjadi bupati? Mungkin amanah rakyat diberikan kepada yang dapat memberi manfaat untuk Bojonegoro. Sampai disini, saya ingat pesan almarhum KH Hamam Munaji, guru saya sewaktu di madrasah: “Hidup itu harus memberi manfaat buat bersama. Tidak penting engkau menjadi apa dan dimana, tapi yang jauh lebih penting engkau bisa memberi manfaat apa!”

Pesan itu terus menggema dan membimbing saya dalam menata niat hidup, berusaha mewujudkannya dengan belajar, usaha dan bekerja dengan siapapun juga.

Lalu mengapa saya bisa sekolah, kuliah dan berkiprah dalam kehidupan seperti sekarang? Karena ada orang tua, saudara, istri dan anak saya yang percaya lalu selalu mendorong dan memberi kesempatan.

Kelihatannya sederhana, menjadi pembicara di forum dunia! Tapi ternyata banyak sekali yang terlibat menjadi sebab dan mendukungnya. Bahkan banyak yang bisa disebut.Saya ucapkan terimakasih untuk semua pihak. Namun mengapa semua skenario kehidupan ini bisa berjalan? Ada saling mendorong, menarik, mengingatkan, memberi pelajaran, dan saling memberi energi dan pengorbanan. Semua peristiwa itu membentuk sebuah kisah episode ke episode, terangkai dan terbaca dengan jelas. Lalu ada energi dan spirit yang mengikatnya.

Saya percaya dengan itulah kekuatan niat baik dari semua yang terlibat. Niat itulah yang membukakan berbagai kemungkinan yang lebih baik terbentang di hadapan kita masing masing dan saling mencari pasangannya untuk menghasilkan hal baik bagi kehidupan sesama.

Sensor ketuhanan kita semua berjalan, saling tertarik pada niat baik, ketulusan dan kesungguhan. Sungguh luar biasa kekuatan niat, what wonderfull the power of good and right intention!

Jadi tubuh boleh sakit, tempat boleh berbeda, masalah harus datang silih berganti. Tapi niat baik harus terus menyala. Niat baik untuk diri sendiri dan untuk sesama. Selanjutnya konsisten mewujudkannya dalam semua upaya dan peristiwa. Pasti akan mempesona semua pihak. Niat baik untuk sesama itulah kekuatan yang sungguh luar biasa!

Lebih menakjubkan karena niat itu,barang gratis, yang kita semua, dapat melakukannya. Sebuah kemerdekaan asasi anugrah Ilahi!

(Catatan perjalanan mengikuti Global Forum, Presencing Institut, MIT Boston, USA, 11-12 Februari 2014)
Ditulis dalam perjalanan New York-Indonesia, 14 Februari 2014

Penulis adalah Bupati Bojonegoro
Dimuat dalam Rubrik Opini, Harian Radar Bojonegoro, Senin, 17 Februari 2014

Leave a Comment