Share

Keluarga: KH Hasyim Muzadi Sering Bertandang Ke Bojonegoro

Bojonegoro, 19/3 (Media Center) – KH Hasyim Muzadi semasa hidupnya sering bertandang ke Bojonegoro, Jawa Timur, karena memiliki keluarga yang dituakan yaitu Siti Fatimah (82) di Kelurahan Ledokkulon, Kecamatan Kota.

Seorang warga Kelurahan Ledokkulon, Kecamatan Kota, Bojonegoro Jimy Agus Wahyudi, di Bojonegoro, Minggu, menjelaskan KH Hasyim Muzadi dan neneknya Siti Fatimah masih saudara satu kakek yaitu Abu Bakar Wustho.

Bahkan, lanjut dia, Siti Fatimah semasa kecilnya pernah hidup bersama keluarga Abah Hasyim di Desa Bangilan, Kecamatan Bangilan, Tuban.

“Nenek Saya Siti Fatimah dulu yang mengasuh KH Hasyim Muzadi,” jelas dia.

Oleh karena itu, lanjut dia, KH Hasyim Muzadi acapkali menemui Siti Fatimah ke Bojonegoro, bahkan pernah menginap di rumah adiknya sendiri Ny. Maftukhah di Gang Mangga di dekat Islamic Centre selama dua pekan.

“Ya sudah menjadi watimpres di pemerintahan Presiden Joko Widodo ini kedatangannya ke Bojonegoro,” ucapnya.

Ia menceriterakan ketika ke Bojonegoro KH Hasyim Muzadi memang sengaja menyendiri menghindari dari umum, karena hanya keluarga yang tahu, sehingga berbagai pihak yang mencari tidak mengetahui.

“Biasanya kalau shalat Jumat di Masjid Babus Shofa di Desa Sukorejo, Kecamatan Kota. Masyarakat tidak tahu karena KH Hasyim Muzadi.” jelas dia.

Ny. Siti Fatimah (82) warga Kelurahan Ledokkulon, Kecamatan Kota, yang dimintai konfirmasi menjelaskan dirinya hidup bersama keluarga KH Hasyim Muzadi semasa masih berusia sekitar tujuh tahun.

Ia hidup bersama keluarga KH Hasyim Muzadi di Desa Bangilan, Kecamatan Bangilan, Tuban, karena orang tuanya meninggal dunia ketika KH Hasyim Muzadi masih belum lahir.

“Saya tidak lagi bersama di Bangilan setelah menikah. Ketika itu KH Hasyim Muzadi sudah besar belajar di Ponpes Gontor,” jelas dia.

Namun, ia mengisahkan selama selama mengasuh Hasyim Muzadi kecil tidak terlalu suka makanan, sehingga ketika kecil kelihatan kurus.

“Dia (Hasyim Muzadi) mintanya makanan misalnya telur, atau kacang, selalu banyak. Tapi makanan yang diminta itu tidak pernah dimakan, ya jadinya kurus,” tuturnya.

Salah seorang anggota keluarga lainnya yang menetap di Surabaya Fajrul Hakam Chozin menambahkan di mata keluarga KH Hasyim Muzadi merupakan sosok yang humoris dan mengusai Ilmu Logika sehingga bisa diterima berbagai kalangan.

“KH Hasyim Muzadi bisa diterima berbagai kalangan karena menerapkan politik NU untuk menjaga keutuhan Bangsa,” ucapnya. (*/mcb)

Leave a Comment