Share

Kemarau Basah, Bojonegoro Antisipasi Ledakan Hama

Bojonegoro (Media Center) – Pemerintah Kabupaten Bojonegoro mengantisipasi atas prediksi terjadinya ledahan hama tanaman pertanian khususnya padi. Menyusul terjadinya kemarau basah—musim kemarau tapi masih hujan–pada musim pancaroba dari hujan ke kemarau di tahun 2016 ini.

Sekretaris Dinas Pertenian Bojonegoro, Bambang Sutopo, mengatakan kemarau basah sebenarnya menguntungkan dari segi pertanian. Alasannya, karena tanaman padi di sawah, bisa cukup ketersediaan airnya. Namun, kemarau basah bisa berdampak terjadi ledakan hama. Seperti tikus, wereng cokelat, potong leher dan hama penggerek. “Kondisi ini memicu hama akan berkembang biak,” ujarnya pada, Jumat (27/5).

Menurut Bambang Sutopo, pada saat kemarau basah, tanaman padi tumbuh subur karena ketersediaan air cukup. Tetapi, begitu masuk kemarau, tanaman padi dan juga palawija sudah panen, maka hama di sawah akan agresif mencari makanan. Makanya, pada saat itulah, hama bisa cepat berkembang biak. Misalnya hama tikus, berkembang biaknya bisa kurang dari satu bulan untuk beranak pinak. “Ini yang patut diwaspadai,” tandasnya.

Untuk mengantisipasi ledakan hama saat kemarau basah, Dinas Pertanian Bojonegoro sudah melakukan beberapa langkah. Misalnya menyiapkan insektisida untuk hama seperti wereng cokelat, penggerek batang dan potong leher. Sedangkan untuk tikus, antisipasinya dengan memburu lubang-lubang di sawah dengan pengasapan.

Data di Dinas Pertanian Bojonegoro menyebutkan, ada penyebaran masa tanam pertama dan kedua Bojonegoro tahun 2016 ini. Untuk musim tanam pertama, yaitu bulan Januari-April seluas 131.450 hektare padi, jagung seluas 42.159 hektare, kedelai seluas 3.107 hektare. Sementara untuk musim tanam kedua, bulan April-Juli, untuk padi seluas 26.533 hektare, jagung luas tanam 2.644 hektare dan kedelai selaus 407 hektare. “Tentu kita waspadai akan serangan hama,” imbuhnya.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD ) Kabupaten Bojonegoro memprediksikan, Bojonegoro mengalami musim Kemarau basah. Karena, bulan Juni hingga Juli yang notabene masuk musim kemarau, tetapi masih turun hujan ringan.

Data cuaca itu, merujuk dari prakiraan  Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dimana hujan akan turun dengan intensitas rendah yakni 0-21 milimeter. Meski diperkirakan musim kemarau tahun ini tidak seberat musim kemarau pada tahun lalu, pihak BPBD tetap siaga menghadapi kemarau.(*/mcb)

Leave a Comment