Share

Kemarau Basah, Petani Tembakau Bojonegoro Ketar-ketir Turun Hujan

Bojonegoro, 21/7 (Media Center) – Petani tembakau di sejumlah kecamatan di Kabupaten Bojonegoro mengaku ketar-ketir. Menyusul terjadinya hujan yang turun dalam beberapa hari ini, meski sedang musim kemarau.

 
 Data di Dinas Pertanian Bojonegoro menyebutkan, luasan tanaman tembakau tahun 2017 sebanyak 3700 hektare. Jumlah bisa saja bertambah mengingat banyak petani mengalihkan tanaman dari padi ke tembakau pada awal Juni 2017 silam. Daerah sebarannya, dari Kecamatan Kedungadem, Sukosewu, Sugihwaras, Dander, Tambakrejo, Sumberejo, Kanor dan sebagian di Baureno.
 
Menurut Imam Muhadjir, di desanya di Desa Purwoasri, Kecamatna Sukosewu, terdapat sekitar 80 hektare tanaman tembakau, umurnya antara 25 hari hingga 30 hari. Di umur itu, tembakau butuh ekstra perawatan, mulai dari penyiraman rutin dan juga pupuk. Tetapi, saat hujan turun di musim kemarau, dirinya khawatir, karena ada genangan.”Sekali, dua kali gak apa-apa. Tapi kalau sering, terancam mati,” ujar Kepala Desa Purwoasri itu pada Kanal.Bojonegoro, Kamis 20 Juli 2017.
 
Untuk antisipasi  hujan berkelanjutan, petani di Desa Purwoasri, membuat gulutan—lubang galian di sekitar tanaman tembakau. Fungsinya untuk menampung air jika hujan terus-menerus datang. Dengan demikian, akar tembakau yang baru umur sekitar 1 bulan, bisa terselamatkan.
 
Sekretaris Dinas Pertanian Bojonegoro Bambang Sutopo mengatakan, memang ada kekhawatiran petani tembakau jika sering hujan. Musim seperti ini, kerap disebut kemarau basah dimana, meski jadwal kemarau tetap masih kerap turun hujan.”Kita menghimbau petani untuk buat parit kecil, penampung air,” tegasnya, Kamis (20/7). Bambang menyebut, tenaman tembakau yang mati akibat hujan, karena tidak ada penanganan, terutama irigasi di sekitar tegakan tanaman. (mcb)

Leave a Comment