Share

Ki Canggih Tri Atmojo, Dalang Remaja Asli Bojonegoro

Bojonegoro, 30/10 (Media Center) – Ki Canggih Tri Atmojo dari Solo ternyata remaja asli Kabupaten Bojonegoro. Hal itu terungkap saat dialog antara Abidin Fikri dari DPR RI bersama Staf Ahli Dirjen IKP Kominfo bersama Dosen ISI Hariyadi dalam pementasan wayang kulit di lapangan Desa Dander, Kecamatan Dander, Bojonegoro, Sabtu (28/10).

Cerita Hariyadi yang juga ayah dari Ki Canggih, ia merupakan pemuda asli dari Desa Mori, Trucuk. Pada tahun 1997, Hariyadi hijrah ke Solo menjadi Dosen ISI Surakarta dan menjadi pembina sanggar dalang di Solo. Ki Canggih sendiri merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara. Awalnya, Hariyadi tidak percaya bahwa anak bungsunya bisa mendalang.

Pada saat itu, pimpinan sanggar memintanya agar Canggih yang saat itu masih kelas VII SMP ikut mendalang di sanggarnya.

“Ternyata setelah dua minggu di sanggar, Canggih diminta pentas dalang di ISI. Saya lihat saat itu dia sudah bisa suluk dan mewayangkan Punokawan, padahal saya tidak mengajari. Akhirnya Canggih saya masukkan ke sanggar tersebut hingga kelas IX SMP,” cerita Hariyadi.

Selama tiga tahun di sanggar, Canggih sudah pernah pentas di Belanda di depan warga Suriname keturunan Jawa yang ada di Belanda.

“Kedepan memang saya harap semoga Canggih bisa meneruskan profesinya sebagai dalang. Dan untuk itu, InsyaAllah akan belajar lagi di ISI Surakarta,” lanjutnya.

Dalam kesempatan tersebut, Hariyadi juga membantah apa yang disampaikan oleh narasumber lain bahwa ada kekhawatiran wayang kulit akan punah.

“Sekarang ini, di Solo ada ratusan calon dalang di sanggar Sarotama Surakarta, begitu pula di Sanggar Baladewa Surabaya yang juga memiliki ratusan murid,” imbuh Dosen ISI Surakarta ini.

Bahkan, duniapun mengakui bahwa wayang kulit merupakan warisan budaya dunia dari Indonesia.

Ismail Cawidu, tenaga ahli dirjen informasi dan komunikasi publik mengatakan, bahwa wayang kulit yang merupakan budaya asli Indonesia sudah dimiliki oleh dunia.

“Wayang sekarang bukan hanya milik orang Jawa saja. Tetapi juga milik saya yang dari Batak, milik Sulawesi bahkan milik warga negara lain,” tukas Ismail.

Untuk memperingati hari wayang sedunia ke-3, pada 7-8 November di ISI SUrakarta akan dipentaskan 38 dalang selama 24jam nonstop. Perlu diketahui, di 2016 pementasan serupa dilaksanakan juga selama 24 jam.(*mcb)

Leave a Comment