Share

Komisi VII DPR-RI Kunjungi Teksas Wonocolo 

Bojonegoro, 8/10 (Media Center) – Ketua Komisi VII DPR-RI, Ridwan Hisjam bersama SKK Migas, Ditjen Migas, PT Pertamina EP Asset 4 dan beberapa Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) Migas yang beroperasi di Kabupaten Bojonegoro mengunjungi kawasan wisata Geoheritage Teksas Wonocolo, kemarin. Kunjungan DPR-RI tersebut kemudian dilanjutkan ke Blok Cepu, lapangan Banyu Urip yang dioperatori ExxonMobil Cepu Limited (EMCL), Sabtu (6/10).

Dalam kunjungannya, Ridwan Hisjam mengatakan, kawasan wisata Geoheritage Wonocolo atau sumur minyak yang dikelola secara tradisional ini memiliki potensi menambah jumlah lifting minyak secara nasional. Dengan catatan, pemilik wilayah operasi, Pertamina EP Asset 4 Field Cepu bisa mengelola dengan baik dengan bekerja sama atau melibatkan partisipasi dengan masyarakat setempat sebagai penambang (bekerja mengangkat minyak bumi).

“Pertamina EP dan SKK Migas sebaiknya mengutamakan konsep pengelolaan sumur tua melibatkan masyarakat yaitu melalui kelompok terdekat di masyarakat yaitu KUD, jika sumur berada dalam geografi lahan yang berada di tengah masyarakat, ataupun melibatkan BUMD jika sumur minyaknya memakai tanah kas desa atau tanah perhutani,” ujarnya.

Hal itu disampaikan karena, menurut dia, sesuai dengan Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 1 tahun 2008 tentang Pedoman Pengusahaan Pertambangan Minyak Bumi Pada Sumur Tua, bisa dikelola oleh Koperasi Unit Desa (KUD) maupun BUMD. Pihaknya mengusulkan ada pembagian fifty-fifty, jumlah sumur yang dikelola oleh BUMD dan KUD.

“Pemerintah dalam hal ini Pertamina EP & SKKMigas harus memberi pembinaan dan sosialisasi kepada masyarakat bahwa kekayaan alam ini milik negara dan dimanfaatkan sepenuhnya oleh negara untuk kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

Diharapkan dengan adanya pembagian pengelolaan sumur tua antara BUMD dan KUD ini salah satunya untuk menghilangkan ilegal driling, dan mampu mendorong peningkatan jumlah lifting minyak.
Hasil diskusi yang dilakukannya, bersama dengan KUD, saat ini jumlah lifting minyak yang diproduksi juga mengalami peningkatan dari 100 barel perhari menjadi 400 barel perhari, bahkan potensinya menurut salah satu Ketua KUD Sumber Pangan, Aan Rochayanto bisa mencapai 900 barel apabila dikelola & dikonsolidasikan dari wilayah seputar kegiatan sumur-sumur tua ini.

“Sangat mungkin tetap dikembangkan, diberikan edukasi pengelolaan sumur dan lingkungannya, sehingga bisa mendorong peningkatan lifting migas”, tegasnya.

Dalam beberapa hari kedepan, pihaknya mengaku akan terus turun ke lapangan untuk memonitor langkah nyata di Wonocolo untuk meningkatkan produksi dan lifting. Selain di Wonocolo, Kecamatan Kedewan, Kabupaten Bojonegoro, Ridwan mengaku juga akan melakukan kunjungan ke Aceh, Sumatera dan Kalimantan.

Hal yang dilakukan oleh Pertamina EP Asset-4 ini akan menjadi sebuah contoh konsep pengelolaan sumur tua yang baik, dimana masyarakat lokal diberikan peran lebih aktif untuk turut mengelola sumur tua dan lingkungannya, menjaga kawasan wisata dari sebuah petroleum geopark dan heritage penambangan migas tradisional.

Target lifting tahun 2018 ini harus meningkat menjadi 775 ribu barel perhari secara nasional dari sebelumnya, 750 ribu barel perhari.

Salah seorang perwakilan dari KUD Sumber Pangan yang juga mengelola Sumur Tua Wonocolo, Aan Rohayanto mengatakan, dalam pengelolaan sumur tua, selaku operator, Pertamina EP Asset 4 sudah banyak membantu. KUD Sumber Pangan itu kini mengelola lima sumur tradisional. “Pertamina sudah banyak membantu soal legalitas maupun penanganan aspek sosial. Hanya saat ini kami perlu bersinergi dengan BUMD & membutuhkan kesamaan visi dan jiwa besar utk kekompakan dan kebaikan masyarakat lokal khususnya di Wonocolo”, ujarnya.

Asset 4 General Manager, Agus Amperianto mengungkapkan bahwa Geoheritage Teksas Wonocolo merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk peduli terhadap lingkungan dan masyarakatnya.

“Kerjasama dan komunikasi terus kami jalin, ke depannya, kami berharap upaya peningkatan produksi harus sejalan dengan kesadaran dalam pengelolaan lingkungan,” ungkapnya.

Agus mencontohkan, bahwa pengelolaan air asin harus zero discharge. “Kumpulkan, kita treatment, injeksikan kembali ke reservoir, dan jangan langsung dibuang ke sungai, agar lingkungan kita tetap terjaga,” pungkasnya.(*lya/mcb)

Leave a Comment