Share

Lezatnya Ayam Goreng Kartini Tak Tergerus Makanan Modern

Bojonegoro, 19/1 (Media Center) – Masakan ayam goreng Kartini di warung milik Salim di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, mampu bertahan tidak tergerus dengan merebaknya berbagai aneka kuliner ayam goreng modern yang dikemas dengan pelayanan yang prima.

Menu ayam goreng Kartini dikenal pelanggannya memiliki keistimewaan, karena ayam kampung, dilengkapi sambal terasi dengan lalapan kubis, timun, terong gelatik, bahkan juga petai tetap bertahan diburu pemburu kuliner.

“Omzet penjualan ayam goreng juga burung dara goreng tidak pernah turun, bahkan cenderung pembelinya meningkat,” kata penjual ayam goreng Kartini di Bojonegoro Dulkarim (30) Jumat (19/1).

Ditanya omzet, ia menyebutkan untuk ayam goreng juga ayam kampung rata-rata masing-masing 40 ekor per harinyam bahkan bisa mencapai 60 ekor masing-masing ayam kampung juga burung dara.

Meski dengan jumlah banyak warung setempat tidak pernah kekurangan stok ayam kampung, juga dara, karena sudah ada pedagang yang bertugas memasok.

“Tapi untuk memperoleh burung dara pedagang pemasok harus berkeliling dari desa ke desa mengambil burung dara dari pemilknya,” ujarnya.

Sekarang, lanjut dia, restoran ayam goreng Kartini terpusat di depan rumahnya di Jalan Dr. Cipto yang sebelumnya pernah di Jalan WR Supratman dan Jalan Kartini, yang menginspirasi nama ayam gorengnya bernama ayam goreng Kartini.

Padahal, menurut alumnus Fisip Unigoro Bojonegoro itu, orang tuanya Salim merintis menjual ayam goreng Kartini di kaki lima di Jalan Kartini di dekat gedung bioskop Pakri sekitar 30 tahun lalu.

Ia mengaku memperoleh resep memasak ayam goreng kampung dari seorang keluarga warga keturunan di Bojonegoro yang pernah menjadi tempatnya bekerja.

“Karena saya memperoleh pelajaran ayam goreng dari orang lain siapa saja yang ingin belajar saya beritahu gratis,” ucapnya menegaskan.

Ia menuturkan dalam merebus ayam kampung yang sudah dipotong-potong, memanfaatkan air kelapa yang dicampur dengan bumbu masakan khas Tionghoa “ngo hiong”.

“Adanya tambahan bumbu “ngo hiong” bau amis ayam hilang, bahkan bau daging ayam menjadi sedap,” ucapnya.

Berdasarkan catatan Wikipedia bahwa “ngo hiong merupakan bubuk lima rempah meliputi kelima rasa manis, asam, pahit, pedas, dan asin.

Bumbu ini sangat popular dalam masakan Tionghoa, tetapi juga digunakan dalam masakan Asia lainnya. Bahan-bahan untuk membuat bumbu ini ada bermacam-macam varian. Yang paling umum adalah bunga lawang, cengkih, kayu manis, andaliman dan biji adas yang ditumbuk.

Paduan rempah-rempah ini didasarkan pada falsafah Tionghoa dalam menyeimbangkan yin dan yang dalam makanan.

“Untuk bumbu “ngo hiong” tidak banyak,. Bumbu “ngo hiong” banyak dijual di pedagang pracangan di Bojonegoro,” ujarnya.

“Pembelinya tidak hanya lokal Bojonegoro, tetapi juga Tuban, Lamongan dan Cepu, Jawa Tengah, bahkan juga Surabaya,” ucap dia menjelaskan.

Meskipun ayam kampung harganya sering berfluktuasi naik, Dulkarim juga Salim, menjual porsi ayam goreng Kartini bisa dada, paha, atau dara termasuk nasi, sambal terasi dan lalapan Rp25.000/porsi.

“Harga menu ayam goreng Kartini itu tidak termasuk minuman,” ujarnya.

Menyantap ayam goreng Kartini selama ini menjadi favorit karena tidak lepas rasa sambal terasi yang mampu membuat ketagihan pelanggannya.

“Saya sejak dulu bagian membuat sambal terasi, ya jelas hapal kemauan pelanggan soal rasa pedas, biasa juga rasa lainnya,” kata karyawan pembuat sambal Panijah seraya menambahkan untuk kebutuhan cabai lompong dan cabai rawit rata-rata sekitar 5 kilogram per harinya. (*)

Leave a Comment