Share

Masjid Kampung Samin dan Uang Duka Ibu Fatmawati

Bojonegoro (Media Center) – Masjid Al Huda, yang berdinding kayu jati, dengan lantai keramik putih, nampak terawat. Masjid di Dusun Jepang, Desa/Kecamatan Margomulyo, Bojonegoro ini, berdiri tepat di depan rumah Mbah Hardjo Kardi,82 tahun, tokoh penganut Samin di kampung pinggir hutan jati tersebut.

Tempat ibadah umat Muslim ini, berdiri bersebelahan dengan Balai Budaya Masyarakat. Pada Ramadan lalu, Masjid yang dibangun tahun 1987 ini, juga diisi dengan kegiatan beribadah pada umumnya. Sholat tarawih, pun juga kadang anak-anak belajar mengaji. Aktivitas bulan Ramadan ini, layaknya nafas anak-anak di Dusun Jepang, yang selama ini dikenal sebagai kampung Samin.

Kampung Samin berlokasi di sekitar 70 kilometer arah barat daya Kota Bojonegoro. Dusun Jepang, masuk di salah satu dataran tinggi, dengan areal sawahnya tadah hujan. Tetapi, kini kebutuhan air sudah bukan masalah lagi. Warga bergotong royong membuat pompa menaikkan air dari Sungai Bengawan Solo, ke perkampungan. Data Desa Margomulyo, di Dusun Jepang jumlah penduduknya sekitar 250 Kepala Keluarga (KK) dan 100 KK di antaranya masih mengikuti ajaran Samin.

rumah warga samin
warga samin

Menurut Bambang Sutrisno, yang mengaku sebagai penerus ajaran Samin, sebagian besar yang ikut puasa di kampungnya, sebagian besar adalah anak-anak muda. Sedangkan sebagian orang tua, usia di atas 60 tahun masih mengikuti kegiatan Samin. Tetapi para orang tua di kampung Jepang, lebih toleran.”Samin itu berat,” ujar anak bungsu dari Hardjo Kardi ini.

Dia menyebut, ajaran Samin, adalah ajakan tentang kejujuran, kerukunan dan menentang segala bentuk penjajahan. Hingga ajaran ini kemudian menyebar di sejumlah tempat di Pulau Jawa. Di Kabupaten Brebes, Kendal, Kudus, Pati, Blora, Rembang, Caruban Madiun dan Bojonegoro. Pun juga menyebar di beberapa kabupaten di Jawa Timur, lainnya.

Makanya, sikap Samin itulah, yang membuat Kampung Jepang, hidup tentram dan damai bertahun-tahun lamanya. Di kampung ini, juga nyaris tidak ada kasus pencurian. Mereka patuh atas ajaran leluhurnya, yaitu tidak mengambil hak orang lain dan menolong tanpa pamrih.
Sikap itu pula yang diwujudkan tokoh Samin, yang bergotong royong membangun sekolahan di Kampung Jepang (sekarang SD Negeri Margomulyo di Dusun Jepang), dan juga tempat ibadah, yaitu Masjid Al Huda.

Ada cerita menarik soal pembangunan Madjid Al Huda di Kampung Samin. Menurut Hardjo Kardi, Masjid itu dibangun tahun 1987, dengan bantuan tenaga dan biaya warga Samin di Dusun Jepang. Khusus soal dana, dia menyebut, dapat bantuan dari Rahmawati dan Megawati, sebesar Rp1,6 juta, akhir tahun 1986 silam.

Ceritanya, ketika itu, orang tua Hardjo Kardi, yaitu Surokarto Kamidin, meninggal dunia tahun 1986 silam di Dusun Jepang, Margomulyo. Rupanya meninggalnya tokoh Samin ini, didengar oleh keluarga Rahmawati, yang kemudian mengutus untuk memberi bantuan uang duka, sebesar Rp1,6 juta kepada Hardjo Kardi.

Hanya saja, uang duka dari keluarga besar Soekarno ini, justru bukan untuk diri sendiri, tetapi dipakai dana pembangunan Masjid. Mulai dari membeli semen, pasir, dan juga kayu.  Alasannya, karena warga yang menjalankan Islam, juga butuh tempat ibadah. Dan sebagai cacatatan, uang duka tersebut, diatasnamakan Ibu Fatmawati—orang tua Megawati dan Rahmawati. “Bondo niku kangge keperluan warga (harta itu untuk kepentingan warga,” ujar Hardjo Kardi, di rumahnya.

Hardjo Kardi menambahkan, kemungkinan pemberian uang duka ini, sebagai balasan pertemuan orang tuanya, yaitu  Surokarto Kamidin dengan Presiden Soekarno, di Istana Negara di Jakarta , tahun 1963 silam. Makanya saat orang tuanya meninggal tahun 1986, keluarga Soekarno mengirimkan pemberian uang duka.

Menurut Camat Margomulyo, Heru Sugiharto, puluhan tahun lamanya kampung Samin di Dusun Jepang, hidup guyub dan rukun. Penduduk di Dusun Jepang, punya toleransi tinggi terhadap perbedaan dan juga kebersamaan. Tokoh seperti Hardjo Kardi,  menjadi panutan masyarakatnya. Sikap jujur, apa adanya, juga gemar membantu warga, yang membuatnya jadi panutan.

“Sosok Mbah Hardjo Kardi, tentu bisa jadi panutan,” tegasnya pada Kanalbojonegoro.com, pekan lalu.

Dia berharap, Kampung Samin di Margomulyo, bagian dari kearifan lokal yang perlu dilestarikan. (*/mcb)

Leave a Comment