Share

“Mbah Balok” Jadi Monumen di Bojonegoro

Bojonegoro (Media Center) – “Mbah Balok” atau kayu jati temuan di perairan Bengawan Solo di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, dijadikan monumen di alun-alun sebagai tanda daerah setempat pernah menjadi daerah penghasil kayu jati kelas dunia.

Bupati Bojonegoro Suyoto, di sela-sela menyambut kedatangan kayu jati itu, Sabtu (7/11), menjelaskan kayu jati sepanjang 17 meter dengan diameter 45 centimeter di alun-alun, akan menjadi monumen sejarah terkait kayu jati di daerahnya.

“Penempatan kayu jati di pojok alun-alun agar tidak mengganggu lokasi alun-alun yang biasa dijadikan upacara,” jelas dia.

Ia menjelaskan keberadaan monumen kayu jati yang ditemukan di perairan Bengawan Solo di Desa Kauman, Kecamatan Kota, pada 1994 itu, sebagai pengingat bahwa daerahnya pernah menjadi penghasil kayu jati kelas dunia.

Selain itu, lanjut dia, monumen kayu jati itu, juga sekaligus sebagai semangat untuk mengajak masyarakat agar melestarikan hutan jati.

“Dulu kayu jati Bojonegoro kelas dunia, sehingga patut dipertahankan keberadaannya,” katanya, menegaskan.

Ia memperkirakan daerahnya menjadi produsen kayu jati kelas dunia  berkisar 1600-1900. Bahkan, kayu jati di daerahnya masih kelihatan lebat sekitar 1980.

“Dulu saya sempat menikmati rimbunnya hutan jati di Bojonegoro ketika berkemah sekitar 1980,” ucapnya.

Namun, lanjut dia, lambat laun hutan jati di daerahnya menyusut, sehingga sudah selayaknya keberadaannya harus bisa dipertahankan dikembalikan ke kondisi semula.

Di lokasi “Mbah Balok” dijadikan monumen, juga terpasang tulisan dalam papan besar yang mengambarkan sekilas sejarah tanaman jati yang menjadi hutan di Bojonegoro.

Selain itu, juga terpasang tulisan ancaman denda dan pidana bagi siapa saja yang menghalang-halangi pelestarian benda cagar budaya, sebagaimana yang tercantum di dalam UU No. 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya, pada pasal 104 dan pasal 105.

Proses pengangkutan kayu jati dilakukan oleh puluhan warga, dengan cara dipikul dengan bantuan gerobak dari TPK ke alun-alun yang jaraknya sekitar 3 kilometer, dengan iring-iringan gamelan dan tari-tarian.(sa/*mcb)

Leave a Comment