Share

Menikmati Nila Waduk Bersama “Kang Yoto”

Bojonegoro, 1/1 (Media Center) – Makan ikan nila bakar dilengkapi sambal “korek” tidak harus di restoran atau warung makanan, tetapi bisa dimana saja.

Apalagi, makan ikan nila bakar itu dilakukan beramai-ramai di tepian Waduk Pacal di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, yang berudara sejuk seraya menikmati keindahan sekelilingnya.

“Kalau sudah begini saya teringat lagu karangan saya Waduk Pacal. Dulu inspirasi lagu itu muncul ketika saya juga duduk di tepi Waduk Pacal,” kata Bupati Bojonegoro Suyoto, sambil menikmati ikan nila bakar, Minggu (1/1).

Pada kesempatan itu, ia mengaku sangat gembira dengan perkembangan pengunjung Waduk Pacal yang terus meningkat.”Ya mungkin tidak lepas dengan lagu karya saya Waduk Pacal. Sekarang jadinya Waduk Pacal banyak dikunjungi masyarakat,” ucapnya.

Ia dengan duduk bersila di atas sebuah tikur bersama dengan rombongannya dari para pengetrail bersama-sama menikmati nila bakar yang dilengkapi dengan sambal “korek” yang juga disaksikan pengunjung objek wisata Waduk Pacal.

Tetapi, sebelumnya ia “menguleg” (menumbuk) paduan cabai, garam dan sebagainya di atas cobek dengan disaksikan rombongannya termasuk Camat Temayang Mochlisiin Andi Irawan dengan jajarannya.

Selama ini soal “uleg-menguleg”, Kang Yoto, demikian berbagai kalangan di Bojonegoro memanggil, sudah terbiasa ketika makan bersama tamunya baik tamu dari dalam negeri maupun luar negeri di rumah dinasnya.

“Nila ini semua asalnya dari Waduk Pacal,” kata Mochliisin Andi Irawan menjelaskan.

Tidak dalam waktu lama sejumlah ikan nila bakar yang disediakan jajaran ibu-ibu Kecamatan Temayang, dengan cara di bakar di lokasi setempat ludes, termasuk sambal korek di dua cobek yang tersedia.

Sebagaimana dijelaskan Anggota DPRD asal Kecamatan Temayang, Ali Mustofa, di Waduk Pacal di Desa Kedungsumber, Kecamatan Temayang, tidak akan pernah kebiasan berbagai macam ikan waduk termasuk nila.

“Ikan nila di Waduk Pacal selalu ada, tidak peduli musim hujan atau kemarau selalu ada,” kata dia menegaskan.

Oleh karena itu menu ikan nila bakar selalu bisa diperoleh di sejumlah warung di sekitar kawasan Waduk Pacal.

Meskipun jumlah warung penjual makanan ikan air tawar di kawasan objek wisata Waduk Pacal yang dibangun Belanda pada 1933 masih kalah jauh jumlahnya dibandingkan dengan penjual makanan ikan air tawar di Waduk Selorejo Malang.

Tidak hanya itu, pengunjung objek wisata di waduk setempat juga bisa membawa pulang ikan nila tangkapan nelayan yang dijual sejumlah pedagang.

Meski demikian para pengemar mancing “mania” di lokasi waduk setempat bisa menjadi ajang penyalur hobi dengan populasi ikan terbanyak nila, selain gloso.

“Kalau tiga “renteng” ikan nila ini semuanya Rp30.000,” kata seorang wanita penjual ikan di Waduk Pacal kepada Kepala Dinas Pertanian Akhmad Djupari. (*/mcb)

Leave a Comment