Share

Menristek-Dikti : Daya Saing Mahasiswa Indonesia Urutan 61 dari 137 Negara

Bojonegoro, 4/6 (Media Center) – “Daya saing mahasiswa Indonesia masih rendah. Dari 137 negara, Indonesia berada diurutan 61, dan nomor 36 tingkat kompetisinya,”.

Hal ini diungkapkan Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Mohamad Nasir, saat mengisi kuliah umum bertajuk ” Kebijakan Nasional Pendidikan Tinggi Indonesia Menghadapi Revolusi Industri 4.0″ di Kampus Institute Agama Islam Sunan Giri dan Kampus Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri Bojonegoro, Minggu (3/6).

“Tapi tingkat kebahagiaan atau kesenangan mahasiswa kita nomor satu di dunia,” lanjutnya.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan masih rendahnya daya saing mahasiswa Indonesia yakni rendahnya literasi Bahasa Inggris, atau masih terjadi buta huruf dalam Bahasa Inggris.

“Ini kedepan sangat penting. Paling tidak TOEFL harus 550,” ucapnya.

Penyebab kedua bidang matematika. Bidang ini juga penting karena sumber ilmu sains di situ. Baik itu fisika, kimia.

“Nilai Matematika di Singapura 8, di Indonesia hanya 5,” ungkap pria yang juga sebagai Ketua LPPM NU ini.

Faktor ke tiga, lanjut Nasir, adalah Sains. Menurut dia, publikasi ilmiah perguruan tinggi Indonesia di tingkat dunia hanya sebanyak 4500. Jumlah ini jauh di bawah Singapura 8000, dan Thailan 9.500.

“Akibatnya muncul ijazah palsu. Karena itu kita sudah meminta semua profesor harus mempublikasinya.

Dia mengungkapkan tingkat publikasi karya ilmiah Indonesia mulai meningkat 18.000 di 2017, dan ditargetkan bisa mengalahkan Malaysia pada tahun 2018 ini.

“Jika ini terus didorong 20 tahun kedepan kita akan mengalahkan Singapura,” tegasnya.

Untuk meningkatkan daya saing dan kompetisi ini, kementeriannya telah melakukan sejumlah revolusi kebijakan yang dinilai menghambat kemajuan pendidikan tinggi. Diantaranya akan memenuhi target satu dosen 1000 mhasiswa.

“Sekarang satu dosen 3000 mahasiswa. Kita juga telah memangkas sejumlah peraturan untuk mempercepat pembangunan pendidikan tinggi di Indonesia,” tegasnya.

Rektor UNUGIRI Bojonegoro, Imam Hambali, mengucapkan terimaksih kepada Menristek Dikti dan rombongan yang sudah memberikan kuliah umum kepada mahasiswa Unigiri maupun IAI Sunan Giri.

“Ini bisa memotivasi mahasiswa dan citivas untuk terus memajukan pendidikan di Bojonegoro,” sambungnya.

Ketua Badan Pengelola Pergruan Tinggi (BPPT) NU Bojonegoro, Muslih menambahkan, pihaknya berupaya memudahkan masyarakat Bojonegoro yang ingin kuliah, namun terkendala biya. Caranya melalui beasiswa bidik misi. Tahun 2017 universitas di Jalan Bojonegoro – Surabaya itu mendapat kuota 146.

“Kami harapkan untuk tahun ini pemerintah pusat bisa menambah dua kali lipat, karena minat masyarakat untuk kuliah meningkat,” harapnya.

Dengan tambahan kuota ini, tambah Muslih, dapat mengurangi angka droup out yang mencapai 32 persen tahun lalu.

“Semoga kedepan tidak ada lagi yang DO,” pungkasnya. (*dwi/mcb)

Leave a Comment