Share

Menuju ODF, Komida Tawarkan Kredit Jamban di Bojonegoro

Bojonegoro, 20/11 (Media Center) – Pemerintah telah mencanangkan program 100 0 100, yakni 100 persen akses air bersih, 0 persen kumuh dan 100 persen sanitasi bagi seluruh penduduk Indonesia yang ditargetkan tuntas di 2019.

Dalam rangka memperingati hari jamban sedunia, water.org yang concern terhadap isu lingkungan, sanitasi dan ketersediaan air bersih mengajak awak media dan blogger untuk mengunjungi beberapa lokasi di Kabupaten Bojonegoro yang masyarakatnya masih BABs. Salah satunya di Dusun Balong, Desa Turi, Kecamatan Tambakrejo.

Berdasarkan penuturan salah satu warga, Reni, dalam satu dusun yang berisi sekira 32 KK, hingga saat ini belum ada yang memiliki jamban dengan septictank. Warga selama ini BAB di toilet tradisional yang biasa disebut “cumpleng/jumbleng”. Bahkan, ada yang buang hajat di hutan.

wanita 40 tahun ini mengungkapkan, saat ini dirinya tengah menyiapkan untuk membangun toilet untuk keluarganya. Ia mengaku baru selesai membangun kamar mandi di 2015 dengan dana pinjaman yang diberikan oleh lembaga keuangan Koperasi Mitra Dhuafa (Komida) yang menyediakan program kredit jamban dan sanitasi bagi anggotanya.

“Kamar mandi sudah (punya), ya sekarang ingin punya WC,” ujarnya saat dikunjungi kanalbojonegoro.com, Sabtu (18/11).

Berbeda dengan warga di Desa Turi, Kecamatan Tambakrejo, Supeni warga Desa Kolong, Kecamatan Ngasem mengatakan warga di daerahnya telah memiliki kamar mandi dan toilet dengan septictank.

“Saya punya kamar mandi dan jamban di tahun 2015, sekarang satu RT semua sudah punya (toilet dan jamban),” jelas wanita yang juga isteri katua RT setempat.

Bukan karena kesadaran pentingnya keberadaan jamban bagi kesehatan, Supeni mengaku membangun kamar mandi dan jamban lantaran malu saat ada tamu maupun sanak saudara yang berkunjung membutuhkan jamban.

Hal inilah yang menjadi tantangan Komida, salah satu lembaga keuangan yang getol mensosialisasikan kredit jamban dan sanitasi kepada masyarakat.

Wash Expert Komida, Farly Saputra menjelaskan, yang menjadi tantangan terbesar adalah mengubah mindset warga yang beranggapan perilaku BABs adalah hal yang lumrah. Untuk itu, pihaknya melakukan pendekatan secara emosional dan humanis kepada para anggota Komida.

“Anggota Komida seluruhnya adalah ibu-ibu dan sasaran kita adalah keluarga miskin. Kita dorong agar mereka bisa mengambil kredit jamban atau sanitasi dengan cicilan yang terjangkau,” terangnya.

Cicilan kredit sanitasi dan jamban ini dibayarkan secara “minggon” (mingguan) dengan tempo 50 hingga 100 minggu atau 1-2 tahun.

Sementara itu, Andi Musfarayani, Advocacy Manager water.org mengatakan, pihaknya tak memberikan sanitasi atau jamban secara cuma-cuma. Pihaknya berupaya mendampingi Komida untuk terus mensosialisasikan pentingnya sanitasi dan ketersediaan air bersih bagi kesejahteraan warga.

“Kenapa tak diberikan secara gratis? Karena kita berusaha menumbuhkan rasa tanggungjawab. Jika ada effort lebih, maka warga akan benar-benar merawat kamar mandi atau jamban yang dimiliki,” lanjut wanita yang akrab disapa Fay ini.

Di Kabupaten Bojonegoro, sanitasi, terutama keberadaan jamban telah terpenuhi sebesar 58.8 persen di 2017. Dari jumlah ini, diantaranya ada lima kecamatan yang telah menyandang status Open Defecation Free (ODF) atau telah terbebas dari perilaku buang air besar sembarangan (BABs).

Lima Kecamatan yang telah menyandang ODF antara lain adalah Kecamatan Baureno, Bojonegoro, Dander, Ngambon dan Gayam. Sementara capaian ODF terendah ada di Kecamatan Nggondang dengan 14.3 persen ODF.(*mcb)

 

 

Leave a Comment