Share

Meski Aktif, Gunung Puru Bojonegoro Tak Bahaya

Bojonegoro, 28/7 (Media Center) – Dinas Energi Sumber Daya Mineral menyatakan bahwa Gunung Puru dan Gunung Pandan, dinyatakan aktif. Meski aktif kedua gunung tersebut tidak berbahaya karena kandungan magma relative kecil berikut lapisan tanahnya tebal. “Aktif, tapi tidak berbahaya,” ujar Kepala Dinas ESDM Bojonegoro Agus Supriyanto, pada Kanalbojonegoro.com, Rabu (27/7).

Meski demikian, lanjutnya, masyarakat yang tinggal di sekitarnya gunung selatan Kota Bojonegoro, tidak terlalu dekat dengan semburan lumpur. Warga di Desa Krondonan, Kecamatan Gondang, Bojonegoro–pemukimannya berjarak sekitar 3 kilometer, untuk tetap berhati-hati.

Menurut Agus, di sekitar perbukitan punggung Gunung Puru dan Pandan, kemungkinan masih banyak terdapat semburan lumpur berikut gas berbau belerang. Semburan itu, kadang muncul saat hujan turun. Semburan lumpur tersebut, berasal dari magma di perut bumi, tepatnya di dalam dua gunung. Namun karena kandungan magma kecil, berikut lapisan tanahnya tebal, sehingga volume yang menerobos ke luar relatif sedikit. Hanya saja, kemungkinan dari pelbagai titik. “Meski hati-hati,” tandasnya.

Pihak Kabupaten Bojonegoro berencana untuk memanfaatkan tenaga geothermal tersebut, untuk kebutuhan energi listrik. Misalnya, diusulkan untuk Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi. Namun, karena secara administratif dan kewilayahan masuk di tiga kabupaten, sehingga, masuk di kewenangan Pemerintah Pusat. Ke depannya, ada celah untuk menggelar rapat dengan Pemerintah Kabupaten Madiun, Nganjuk dan Bojonegoro.

Badan Lingkungan Hidup Bojonegoro, telah mengambil sample lumpur dari Desa Kerondonan, Gondang, untuk dibawa ke Laboratorium BLH Jawa Timur di Surabaya. Pengiriman sample dilakukan tim dari BLH Bojonegoro, yang datang ke lokasi semburan pada Selasa sore 25 Juli 2016. “Sampel telah kita bawa ke Surabaya ,” ujar Kepala Bidang Pengkajian dan Laboratorium Lingkungan BLH Bojonegoro hary Susanto, Rabu 26 Juli 2016.

Dari hasil pengukuran udara di sekitar semburun lumpur Kerondonan, pihak BLH Bojonegoro menyebut, ada kandungan nitrogen dioksisa (N02) sebanyak 0,4-0,7 ppm. Kemudian carbon dioksida (C02) sebanyak 20,9 ppm. Pengukuran udara dilakukan pada Selasa, siang, kemarin.

Seperti diketahui semburan lumpur disertai bau belerang ditemukan di Desa Krondonan, Kecamatan Gondang, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, pada Minggu 24 Juli 2016. Temuan semburan lumpur ini, berbeda dengan sebelumnya yaitu di Desa Jari, Kecamatan Gondang, Bojonegoro, pada Kamis 14 April 2015 silam.

Namun, lokasi temuan lumpur ini berada di kawasan Gunung Puru, yang merupakan areal Pegunungan Pandan, berlokasi di antara Kabupaten Bojonegoro dan Kabupaten Nganjuk serta Madiun, Jawa Timur. Semburan lumpur yang diikuti bau gas belerang ini, muncul dari lima titik dan kemudian lubangnya menyatu menjadi hanya tiga titik. Lumpur yang menyembur dari perut bumi ini, mengalir di areal kebun di tanah milik Perhutani.

Dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah Bojonegoro, menyebutkan, debit lumpur yang mengucur yaitu satu liter perdetik. Namun, debitnya bisa bertambah jika misalnya hujan datang. Selain itu, bau belerang juga tercium kuat jika berada di lokasi titik semburan lumpur.(*/mcb)

Leave a Comment