Share

Monumen Pers Nasional Telusuri Daerah Kumpulkan Artefak Pers

Bojonegoro, 13/4 ( Media Center) – Tim Monumen Pers Nasional Solo, di Solo, Jawa Tengah, menelusuri sejumlah daerah di Jawa Timur, untuk mengumpulkan artefak pers yang akan dimanfaatkan untuk menambah koleksi, dalam beberapa hari terakhir.

“Kami di Bojonegoro, juga ke Madiun, untuk bisa menemukan artefak pers yang bisa menambah koleksi di Museum Pers Nasional di Solo, dalam beberapa hari ini, ” kata Konsevator Monumen Pers Nasional Solo Slamet Widodo, Jumat (13/4).

Ia menyebutkan sekarang ini Monumen Pers Nasional di Solo, Jawa Tengah, dibawah Kementerian Kominfo memiliki koleksi sekitar 500 judul koran.

Selain itu, juga memiliki koleksi berbagai benda pers bersejarah, antara lain, kamera yang dimanfaatkan untuk bertugas Fuad Muhammad Syafruddin (Udin) wartawan Harian Bernas Yogyakarta yang terbunuh.

Monumen Pers Nasional di Solo, lanjut dia, juga menerima kiriman koleksi buku-buku yang memiliki nilai-nilai sejarah terkait pers , misalnya, sejarah Pers Bojonegoro.

“Buku-buku karya wartawan akan ditempatkan di perpustakaan,” kata Slamet.

Lebih lanjut ia menjelaskan pencarian artefak pers sudah dilakukan ke berbagai daerah di Tanah Air, sejak sejak 2010.

Sebelum itu, lanjut Pranata Komputer Monumen Pers Nasional Solo Christianto H.N, pencarian artefak pers juga dilakukan di Palembang, Bangka Belitung, juga daerah lainnya.

“Kami bergerak ke suatu daerah untuk mencari (artefak) pers berdasarkan informasi yang kami peroleh,” ucap dia yang juga didampingi Digitalisator Monumen Pers Nasional Solo Yosef Victor D.

Semua artefak koran yang menjadi koleksi diubah dalam bentuk digitalisasi, selain memperoleh perawatan yang disebut “Fumigasi” dua kali dalam setahun.

Perawatan lainnya secara alami dengan menempatkan merica yang dibungkus juga bahan lainnya di dekat koran itu agar tidak rusak. “Jumlah pengunjung terus meningkat. Rata-rata sekitar 12.000 pengunjung dari kalangan pelajar termasuk siswa PAUD,” ucap Yosef.

Gedung Monumen Pers Nasional Solo, diresmikan Presiden Soeharto pada 9 Februari 1978. Sebelum menjadi Monumen Pers Nasional gedung itu bernama Gedung Sasanasuka atau “Societeit (Sositet) Mangkunegaran, semula didirikan Sri Mangkunegara VII pada 21 Desember 1918.

Gedung itu karya asritek Semarang di zaman Hindia Belanda yaitu Mas Abukasan Atmodirono. “Pencarian artefak pers sekarang ini ya dilakukan 10 personel yang bertugas di Monumen Pers Nasional Solo,” ucap Slamet menambahkan. (*/mcb)

Leave a Comment