Share

Museum 13 Tampung Temuan Fosil Bojonegoro

Bojonegoro, 27/12 (Media Center) – Kabupaten Bojonegoro memiliki sebaran temuan fosil yang hampir merata. Mulai dari ujung Barat yang berbatasan dengan wilayah Kabupaten Ngawi, Blora, Jawa Tengah.

Di sisir Selatan yang berbatasan dengan Nganjuk dan Madiun. Wilayah Timur yang berdekatan dengan Kabupaten Lamongan serta wilayah Utara berbatasan dengan Kabupaten Tuban.

Sebagian besar fosil yang terselamatkan saat ini dikoleksi museum swasta yang dikelola komunitas Museum 13, di Desa Panjunan, Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro.

Koordinator Museum 13 (M13), Harry Nugroho, mengatakan, saat ini penjualan fosil maupun temuan barang sejarah di Kabupaten Bojonegoro masih bebas berkeliaran. Saat ini hanya bisa menyelamatkan sedikit dari jumlah temuan yang menyebar di Bojonegoro.

“Kalau koleksi di M13 ini paling banyak dari Kecamatan Padangan dan Desa Wotanngare, Kecamatan Kalitidu,” ujarnya.

Beberapa sebaran temuan fosil di Bojonegoro, seperti di Kecamatan Padangan berada di Desa Ngeper, Tebon, Prangi, dan Desa Tinggang. Di kawasan tersebut banyak ditemukan fosil gajah jenis spesies stegodon, kuda laut, kerbau, banteng dan buaya. Di Kecamatan Tambakrejo di Desa Bakalan pernah ditemukan sapi purba, kerbau dan banyak pecahan gigi megalodon (gigi hiu), di daerah perbukitan.

“Di Kecamatan Tambakrejo ini kawasannya hampir merata bisa ditemukan fosil,” jelasnya.

Sedangkan , di Desa Ngelo, Kecamatan Margomulyo merupakan masuk wilayah situs Matar. Di daerah Bojonegoro Timur, di Desa Kesongo, Kecamatan Kedungadem, pernah ditemukan fosil kepala gajah lengkap dengan gadingnya. Serta di Desa Alas Tua, Kecamatan Sukosewu, ditemukan pecahan rusuk paus, namun fosil tersebut dugaannya merupakan fosil migrasi.

Anggota Museum 13 merupakan kelompok orang yang peduli dengan sejarah terbentuknya Kabupaten bojonegoro. Mereka mengaku belajar sendiri mengenali wilayahnya dari peta struktur tanah dan peta geologi. “Kalau tanah lempung pasti sudah tidak ada. Minimal lapisan ketiga kalau ada,” ungkapnya.

Museum 13 saat ini menjadi ruang belajar dari para siswa. Bahkan, sebagian besar universitas dari luar Bojonegoro yang akan melakukan penelitian di Bojonegoro menggunakan rujukan Museum 13 sebagai datanya.

Dia mengakui, sebenarnya melihat potensi temuan fosil yang ada di Bojonegoro bisa menyamai dengan museum Sangiran. Di Bojonegoro ada sebanyak 89 jenis spesies molusca.(*dwi/mcb)

Foto: Dokumentasi Museum 13 (Hary Nugroho)

Leave a Comment