Share

Pakar: Hewan Kurban Harus Sehat

Bojonegoro (Media Center) – Pakar Kesehatan Hewan dari Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Jawa Timur, Dr. H.Mustofa Helmi Effendi, Drh.,DTAPH menyatakan hewan kurban harus sehat yang ditetapkan berdasarkan pemeriksaan kesehatan hewan sebelum disembelih (atemortem).

“Pemeriksaan kesehatan yang menyatakan hewan tersebut sehat berdasarkan hasil pemeriksaan oleh petugas berwenang, sebelum hewan kurban disembelih,” katanya, kepada puluhan juru sembelih di Bojonegoro, Rabu (9/9).

Ia juga menjelaskan hewan kurban tidak boleh cacat (tidak pincang, tidak buta, daun telingga tidak rusak, tanduk tidak patah) dan tidak kurus.

“Jenis kelamin hewan kurban harus jantan,” katanya, menegaskan.

Soal usia hewan kurban, lanjut dia, untuk kambing/domba berumur di atas satu tahun ditandai dengan tumbuhnya sepasang gigi tetap. Untuk sapi/kerbau berumur di atas dua tahun ditandai dengan tumbuhnya sepasang gigi tetap.

Ia juga menyebutkan hewan kurban terdiri dari kambing, domba, sapi, kerbau, untan atau sejenisnya. Dilain pihak, hewan yang tidak sah sebagai hewan kurban yaitu unggas (ayam, itik, angsa juga yang lainnya), apalagi yang diharamkan (babi, anjing, binatang buas dan sejenisnya).

Sesuai ketentuan, kambing/domba satu ekor untuk satu orang/keluarga/kelompok masyarakat, sapi/kerbau satu ekor diatasnamankan tujuh orang atau tujuh keluarga, sedangkan unta satu ekor diatasnamakan 10 orang atau 10 keluarga.

Pada kesempatan itu, ia juga menyampaikan dalam menangani daging kurban harus tersedia tempat yang bersih dan terlindung dari matahari dan hujan. Selain itu, tempat penanganan daging harus terpisah dari penanganan “jeroan”.

Lainnya, tersedia “talenan” untuk alas pemotong daging, gantungan karkas/daging, tersedia plastik untuk alas daging/karkas dan kantong plastik tahan panas untuk pembungkus daging.

“Seorang penyembelih hewan kurban harus memiliki pengetahuan dan keterampilan teknis penyembelihan halal dan thoyib,” katanya, menegaskan.

Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Bojonegoro Subekti, menjelaskan pengawasan penyembelihan hewan kurban pada Hari Raya Idul Adha 1436 Hijriyah dilakukan dengan melibatkan juru sembelih di wilayahnya.

“Pengawasan hewan kurban yang layak disembelih kalau hanya mengandalkan petugas mantri hewan (28 personel) sulit dilakukan. Oleh karena itu, kami meminta juru sembelih ikut mengawasi dengan tidak menyembelih hewan kurban yang tidak layak,” tuturnya. (sa/mcb)

Leave a Comment