Share

Panitia Bojonegoro Petakan Lokasi Festival Bengawan

Bojonegoro (Media Center) – Tim panitia Festival Bengawan Bojonegoro, Jawa Timur, memetakan titik yang akan digunakan untuk berbagai kegiatan festival bengawan pada 17 dan 20 September 2015 mendatang.

“Kami telah tiga kali menelusuri lokasi yang akan digunakan untuk kegiatan di sepanjang Bengawan Solo, Kamis (10/9),” kata koordinator pelaksana Festival Bengawan Bojonegorokata Wahyu Subakdiono.

Ia menjelaskan, pemetaan ini merupakan salah satu bentuk penyiapan yang harus dilakukan oleh pelaksana kegiatan, tak terkecuali Festival Bengawan Bojonegoro 2015 yang merupakan salah satu rangkaian kemeriahan peringatan Hari Jadi ke-338 Bojonegoro (HJB 338).

Hingga saat ini, mereka yang tergabung dalam kepanitiaan telah melakukan tiga kali pemetaan di sepanjang arena Festival Bengawan Bojonegoro.

“Lokasinya ya di sepanjang sungai Bengawan Solo antara Bendung Gerak di Desa Padang Trucuk hingga ke Jembatan Kalikethek di Kecamatan Bojonegoro,” lanjut Wahyu.

Dijelaskan, dari hasil pemetaan sebelumnya terdapat beberapa hal yang menjadi fokus perhatian. Yang paling utama adalah mengenai dampak dan keselamatan personil yang terlibat di dalamnya.

“Yang pertama adalah mengenai air, saat pelaksanaan nanti pintu air bendung gerak akan dibuka sejak pagi,” tambah Ketua sub seksi Festival Bengawan Bojonegoro, Imam Wahyu Santoso.

Ia mengimbau agar warga bantaran menyiapkan diri terkait penambahan debit air pada 20 September mendatang, utamanya pada pemilik perahu yang biasanya menambatkan perahunya tanpa diikat pada saat kemarau dan pemilik pompa air untuk kebutuhan lahan pertaniannya.

Sementara itu, khusus operator jembatan bambu yang berada di lintasan parade perahu, telah menyatakan kesanggupannya guna ikut menyukseskan Festival Bengawan Bojonegoro 2015 ini.

“Siap, ini telah kami rancang dengan model buka tutup selebar 3-4 meter,” kata Didik, koordinator operatot jembatan bambu.

Saat musim kemarau tiba, di sejumlah titik yang biasa digunakan sebagai lokasi penyeberangan sungai Bengawan Solo, warga Bojonegoro menggantikan moda perahu sebagai sarana penyeberangan dengan membangun jembatan semi permanen berbahan bambu.

“Yang jelas, warga Bojonegoro sangat antusias, bahkan banyak yang menggelar spanduk ucapan selamat di bantaran saat kami melakukan survey menyusuri bengawan,” pungkas Wahyu Subakdiono, yang juga sebagai Ketua Kelompok Kerja Kebudayaan Bojonegoro tersebut.

Dari hasil pemetaan, panitia telah menentukan lokasi-lokasi yang akan digunakan, baik itu untuk pameran dan aneka lomba di Bendung Gerak Desa Padang Kecamatan Trucuk, titik pelepasan lampion apung dalam Festival Kambangan Damar Kurung di jembatan Ledok Etan yang berdekatan dengan makam Ki Andongsari, hingga titik penempatan panggung atas air di Taman Bengawan Solo (TBS) di kawasan perkotaan.(*mcb)

Leave a Comment