Share

Pemberdayaan Perempuan Masih Minim di Campurejo

Bojonegoro (Media Center) – Peran perempuan di Desa Ring 1 pengeboran minyak lapangan Sukowati, Blok Tuban, Desa Campurejo, Kecamatan Kota, Kabupaten Bojonegoro, dirasa kurang optimal. Hal ini dikarenakan kebutuhan tenaga kerja di proyek migas yang dioperatori Joint Operating Body Pertamina Petrochina East Java (JOB P-PEJ) kebanyakan adalah laki-laki.

Kepala Desa Campurejo, Edy sampurno, mengatakan, selama pemerintahannya, belum ada program pemberdayaan perempuan yang diberikan oleh operator maupun desa. Hal ini dikarenakan, selama ini JOB P-PEJ belum melakukan survei dan penggalian potensi menyangkut pemberdayaan perempuan.

“Ya memang belum ada, karena kami mengandalkan operator untuk itu,” sergah Edy.

Dia mengatakan, perempuan di sekitar ladang migas Sukowati memiliki latar belakang pendidikan berbeda-beda, ada yang lulus SMA dan perguruan tinggi negeri. Namun, setelah lulus kebanyakan bekerja yang menyesuaikan bidang masing-masing baik di dalam kota maupun luar kota Bojonegoro.

“Tapi banyak juga yang menikah dan hanya menjadi ibu rumah tangga saja di rumah,” tandasnya.

Pihaknya menyampaikan, pernah mengajukan program pemberdayaan perempuan seperti membuat koperasi wanita atau program lainnya untuk pengembangan kreativitas, tetapi kalah dengan pengajuan pribadi dari kalangan tertentu sehingga tidak ada jatah untuk itu.

“Kenapa kami mengandalkan operator untuk program pemberdayaan perempuan ini? ya karena sudah ada wadah untuk menampung kraetivitas perempuan seperti kerajinan tangan, menjahit, dan hand craft, tetapi tidak dilirik sama sekali oleh operator,” ujarnya.

Dia menyatakan, dalam memberdayakan perempuan di sekitar pengeboran, pemerintah desa sudah memiliki wacana program apa yang sesuai dan cocok bagi perempuan atau ibu rumah tangga untuk menambah keterampilan khususnya menciptakan lapangan pekerjaan.

Dia menyebutkan, di Dusun Mlaten, Desa Campurejo, awalnya berdiri sebuah koperasi desa yang menampung hasil kreativitas ibu-ibu PKK dan remaja putri di desanya. Tetapi karena kurangnya skill atau ketarampilan dalam hal pemasaran dan kehabisan modal, maka koperasi tersebut tutup.

“Mau bagaimana lagi, menunggu persetujuan dari JOB P-PEJ untuk membantu program tersebut,” pungkasnya.

Terpisah, Yuliani (28), warga RT 18 RW 01 Dusun Plosolanang, Desa Campurejo, mengatakan, selama ini belum ada program pemberdayaan perempuan baik itu sekedar pelatihan untuk kerajinan tangan atau menjahit.

“Setiap hari saya jaga counter pulsa, lumayan untuk tambahan suami yang kerja di toko bangunan,” imbuhnya. (rin/*acw)

Leave a Comment