Share

Penambang Keluhkan Rendahnya Ongkos Angkat – Angkut Minyak Mentah

Bojonegoro, 29/10 (Media Center) – Salah satu penambang sumur tua, Kamito, mengeluhkan ongkos dan angkut yang dinilai terlalu rendah oleh Paguyuban. Yakni sebesar Rp2100 per liternya.

“Dulu saat dipegang KUD perliternya dihargai Rp3000, sekarang hanya Rp2100,” ujarnya.

Selain itu, pihaknya menolak jika sumur tua dikatakan tidak memberikan kontribusi kepada daerah. Karena, kenyataan di lapangan, penambang kembang kempis menyetorkan minyak mentah setiap harinya meski dengan harga rendah.

“Kami jadi bingung, nyetor minyaknya kemana? Apa ke paguyuban atau KUD,” tukas pria asal desa Hargomulyo, Kecamatan Kedewan ini.

Pria berperawakan kurus ini mengungkapkan, sumur tua di Gebangan tidak tersentuh sama sekali karena minyak mentah yang dihasilkan penambang tidak diterima Pertamina EP dengan alasan tidak sesuai standar.

“Kami mau tanya, kalau kondisinya seperti itu, lalu kami harus bagaimana?” tegasnya.

Menjawab hal itu, Field Manager Pertamina EP Asset IV Field Cepu, Agus Amperiyanto, mengatakan, ongkos angkat angkut pada bulan Juni 2016 lalu jumlahnya naik dari sebelumnya Rp.1800-an per liter, menjadi Rp. 2100-an lebih per liter.

Kenaikan ongkos angkat dan angkut pengambilan minyak mentah dari sumur minyak tradisional ini karena mengikuti kenaikan harga minyak dunia.

“Karena harga minyak dunia naik, ya imbalan jasa juga ikut naik,” tambahnya.

Besarnya imbalan jasa pengambilan minyak mentah dari sumur tua di sejumlah desa di Kecamatan Kedewan, diperhitungkan sebesar 70 persen dari harga Internasional crude price (ICP).

“Selama ini besaran ongkos angkat dan angkut selalu mengikuti harga minyak dunia,” pungkasnya.(dwi/mcb)

Leave a Comment