Share

Penanggap Wayang Thengul Menyukai Kisah Damar Wulan

Bojongoro, 15/10 (Media Center) – Seorang dalang Wayang Thengul di Bojonegoro, Jawa Timur, Mardji Marto Deglek mengatakan penanggap Wayang Thengul menyukai kisah tentang Damar Wulan, selain kisah berdirinya Kerajaan Demak, dan masuknya Agama Islam ke Tanah Jawa.

“Warga penanggap Wayang Thengul di Bojonegoro, juga di Tuban, paling menyukai kisah tentang Damar Wulan, selain kisah yang lainnya,” kata Mardji Marto Deglek, di Bojonegoro, Senin (15/10).

Menurut dia, sebagian besar masyarakat menanggap Wayang Thengul dengan tujuan untuk meruwat anaknya, baik warga di Bojonegoro dan Tuban, selain untuk hajatan sunatan atau yang lainnya.

“Saya rata-rata bisa memperoleh tanggapan 12 kali dalam sebulan,” ucapnya.

Mardji yang juga warga Desa Sukowati, Kecamatan Kapas itu, memiliki sembilan personel (termasuk Mardji), di antaranya, tiga personel pesinden, sedangkan lainnya pengrawit dalam menggelar pergelaran Wayang Thengul.

Dalam mementaskan Wayang Thengul lengkap dengan pesinden dan pengrawit, Mardji mematok harga Rp4 juta sekali main.

Meski demikian, ia mengaku masih menggelar pertunjukkan di tempat tertentu, atau mengamen sebagai usaha menyosialisasikan Wayang Thengul, baik di jalanan maupun di tempat tertentu.

Sehari lalu, ia main di objek wisata Prataan, di Desa Wukiharjo, Kecamatan Parengan, Tuban, pada siang hari. Tapi, sebelumnya ia bersama timnya memperoleh tanggapan warga di desa setempat yang menggelar hajatan dengan waktu pentas semalam suntuk.

“Kalau bermain seperti ini (di Prataan) saya tidak pasang tarif. Sama dengan waktu mengamen di jalanan juga pemberian masyarakat tidak ada tarifnya,” ucapnya menjelaskan.

Ia optimistis masyarakat sekarang sudah mulai mengemari Wayang Thengul dengan bersedia menanggap di berbagai hajatan tidak hanya dirinya tapi juga dalang Wayang Thengul lainnya.

“Dalang Wayang Thengul di Bojonegoro rata-rata juga sering ditanggap,” ucapnya.

Data di disbudpar setempat menyebutkan dari 13 dalang Wayang Thengul yang masih bertahan di daerahnya, salah satunya berusia 18 tahun, yaitu Trio Wahyu Aji, asal Desa Kedungrejo Kecamatan Kedungadem. (*/d1)

Leave a Comment