Share

Peneliti Jepang Amati Revolusi Data di Bojonegoro

Bojonegoro, 25/1 (Media Center) – Empat peneliti dari Center For Southeast Asian Studies (CSEAS), Universitas Kyoto Jepang, Dr. Okamoto Masaaki, Dr. Kameda Akihiro, Dr. Watanabe Kazuo, dan Dr. Hasegawa Takuya serta tiga peneliti dan aktivis dari Indonesia melakukan audiensi ke Kabupaten Bojonegoro, Selasa (24/1). Tim peneliti ini diterima oleh Bupati Bojonegoro, Suyoto yang didampingi oleh beberapa pejabat dinas dan diterima di gedung Pemkab Bojonegoro.

Dr. Okamoto Masaaki menyampaikan bahwa tujuan berkunjung ke Bojonegoro untuk penelitian mengenai perkembangan desa di Indonesia. ia mengaku sangat tertarik dengan upaya-upaya yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, terutama kegiatan Revolusi Data.

“Kami sekaligus ingin berkunjung ke desa-desa dimana Game My Village diterapkan yang bekerjasama dengan Sinergantara dan BIGS (Bandung Institute of Governance Studies),” ungkapnya.

Suyoto menjelaskan, tentang Revolusi Data yang telah diterapkan dan dikembangkan di Bojonegoro mulai tahun 2016. ia mengungkapkan, untuk membangun data dasar Bojonegoro, pemkab melibatkan perempuan-perempuan Kader PKK untuk menginputkan data dasar yang jumlahnya 300 kolom per data pada buku Dasa Wisma ke dalam suatu aplikasi yang disebut aplikasi Dasa Wisma.

“Kita juga sangat menerima kehadiran Sinergantara dengan aplikasi Revolusi Data yang arahnya adalah untuk mendukung semua efisiensi dan efektifitas pembangunan di Bojonegoro,” imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kominfo Kusnandaka Tjatur P, menyampaikan, terkait proses data terdapat beberapa tahapan. Yang pertama adalah inputing data untuk menjadikan data dasar (baseline data), kemudian yang kedua adalah bagaimana mekanisme pembaruan data, yang ketiga adalah pemanfaatan dan penggunaan data, dan keempat adalah bagaimana data tersebut ditampilkan kepada para pihak.

“Oleh karena itu, dalam mekanisme revolusi data yang dilakukan oleh Pemkab Bojonegoro sebagai rencana aksi OGP di Bojonegoro baru pada tahapan pengumpulan data dasar dan bagaimana cara melakukan perubahan data dasar tersebut,” terangnya.

Kemudian, lanjut dia, secara pararel sedang dibahas dimana di dalam data-data tersebut terdapat data yang sifatnya statis, dinamis dan individu.

“Tentunya data yang bersifat individu dan privat itu tidak akan di-open-kan karena merupakan hak masing-masing pemilik data”, tegas Kusnandaka.(mcb)

Leave a Comment