Share

Perajin Batik Jonegoroan Harus Kurangi Biaya Produksi

Bojonegoro (Media Center) – Para perajin batik di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, terus melakukan berbagai upaya dalam menghadapi persaingan batik di tingkat lokal maupun nasional.

“Persaingan di wilayah sendiri saja belum bisa diatasi, apalagi keluar. Tantangan ini yang terus kita carikan solusinya,” ungkap Muhajir, perajin asal kecamatan Ngasem, Bojonegoro, Kamis (25/2).

Muhajir mengatakan, salah satu tantangan dalam persaingan batik adalah maraknya batik printing dari produsen luar daerah yg dikerjakan dalam skala besar sehingga mereka mampu menekan biaya produksi.

Menyikapi tantangan ini, perajin Batik Jonegoroan dituntut untuk mengurangi biaya produksi. Saat ini, ungkap Muhajir, para perajin batik Jonegoroan mulai menggunakan cap batik alternatif.

Dia menjelaskan, Cap batik alternatif adalah cap batik hasil kreatifitas perajin batik jonegoroan dengan memanfaatkan bahan yg cukup sederhana dan murah, serta mudah didapatkan.

“Bahannya menggunakan gipsum, triplek bekas dan aluminium bekas,” cetusnya.

Dengan cap batik alternatif ini, kata Muhajir, para perajin optimis bisa menghadapi pasar dengan lebih baik.

“Ini merupakan terobosan yg akan sangat membantu kami dalam menghadapi persaingan harga. Dan tentunya butuh dukungan dari semua pihak,” ucapnya.

Herlyn, perajin batik asal Desa Sukoharjo Kecamatan Kalitidu menambahkan, cap batik alternatif memudahkan para perajin batik untuk berinovasi dalam pengembangan motif batik.

Sebab, dengan bahan yang sederhana, perajin dapat dengan mudah membuat cap yang selama ini selalu bergantung dari tempat lain (produsen cap).

“Dari segi teknik produksi kami merasa cukup siap utk menghadapi persaingan ini,” katanya.

Terpisah, perwakilan operator Blok Cepu, EMCL, Edi Arto mengatakan, pihaknya terus memberi dukungan melalui program membatik yang  merupakan komitmen perusahaannya dalam pengembangan ekonomi masyarakat sekitar wilayah operasinya.

“Dengan persetujuan SKK Migas, program ini sekaligus bentuk dukungan kami dalam pengembangan batik jonegoroan sebagai kekayaan khazanah industri kreatif di Bojonegoro,” tandasnya.

Edi mengatakan, para perajin harus bersatu padu serta saling berbagi pengalaman dan strategi usaha.(dwi/mcb)

Leave a Comment