Share

Perajin Tahu Ledok Minta Tambahan IPAL

Bojonegoro, 4/5 (Media Center) – Sentra industri tahu di Kabupaten Bojonegporo terletak di Desa Ledok Kulon, Kecamatan Bojonegoro. Di lokasi ini, terdapat lebih dari 100 produsen tahu dan tempe yang beroperasi setiap hari.

Dengan jumlah produsen tahu dan tempe yang mecapai ratusan, warga serta perajin di desa setempat meminta adanya penambahan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) untuk mengolah limbah produksi tahu yang selama ini langsung dibuang di aliran sungai Bengawan Solo.

Saat ini, di Desa Ledok Kulon hanya terdapat satu unit IPAL yang dimanfaatkan sekitar 30 perajin dan 58 rumah tangga. Sementara perajin lain masih membuang air limbah ke Bengawan Solo.

Untuk itu, Paguyuban Perajin Tahu dan Tempe meminta pemerintah kabupaten (pemkab) segera merealisasikan menambah instalasi pengolahan air limbah (IPAL), karena keberadaan satu unit IPAL yang ada belum menjangkau seluruh perajin tahu.

“IPAL yang ada sekarang hanya dimanfaatkan untuk mengolah sekitar 30 perajin tahu, termasuk untuk limbah rumah tangga warga yang ada di sekitarnya,” kata Ketua Paguyuban Perajin Tahu dan Tempe di Bojonegoro Arifin.

Ia mengaku sudah menyampaikan tambahan satu unit IPAL lagi, tetapi hanya memperoleh gambaran pengadaan IPAL akan dikerjakan 2018. Dari data yang diperoleh menyebutkan satu unit IPAL yang sekarang sudah terpasang dibangun dengan biaya Rp8,454.987.000.

Kepala Dinas Perumahan Kawasan Pemukiman dan Cipta Karya Pemkab Bojonegoro Welly Fitrama membenarkan pemkab akan menambah satu unit IPAL tahu di Desa Ledokkulon, Kecamatan Kota.

“Alokasi anggarannya hampir sama dengan IPAL yang sudah ada. Yang jelas pengerjaan penambahan IPAL tahu tahun ini,” imbuhnya.

IPAL di lokasi setempat sudah difungsikan sejak 22 Desember 2017 untuk mengolah limbah industri tahu dan limbah rumah tangga 58 rumah di Kelurahan Ledokkulon. Limbah industri tahu dan rumah tangga yang diolah melalui IPAL ini rata-rata sekitar 30 meter kubik/hari.(*mcb)

Leave a Comment