Share

Perangi Berita Hox dari Keluarga, Kemkominfo Sosialisasi Lewat Wayang Kulit

Bojonegoro, 30/10 (Media Center) – Kementerian Komunikasi dan Informatika bekerja sama dengan Fraksi PDIP mensosialisasikan Pembangunan karakter nasional yang berjiwa pancasila dalam bingkai gerakan nasional revolusi mental di Desa Dander, Kecamatan Dander, Kabupaten Bojonegoro, Sabtu (28/10). Dalam kegiatan ini, hadir Dr. Ismail Cawidu, tenaga ahli dirjen informasi dan komunikasi publik, mewakili Komisi IX hadir Abidin Fikri, dan wakil ketua DPRD Bojonegoro Budi Irawanto.

Abidin Fikri menyatakan, ada tiga hal pokok dalam revolusi mental. “Ada tiga poin dalam revolusi mental, yang pertama integritas, kedua etos kerja dan ketiga adalah gotong royong,” terang pria dari fraksi PDIP DPR RI ini.

Sementara itu, Ismail Cawidu mengungkapkan, Kementerian Kominfo memiliki tiga tugas pokok. Yakni Merumuskan dan melaksanakan bidang telekomunikasi, merumuskan dan melaksanakan di bidang TI, meneruskan dan melaksanakan kegiatan komunikasi publik. Salah satunya dilakukan dengan sosialisasi seperti kegiatan yang terselenggara ini. Ia menambahkan, Perkembangan telekomunikasi manfaatnya bisa dirasakan. Saat ini e-commerce, mencapai nilai Rp128 triliyun. Namun, di sisi lain, penggunaan teknologi bisa menimbulkan pertentangan di masyarakat, utamanya SARA dan ujaran kebencian.

“Ini berbahaya sekali. Bila memperoleh informasi yang mengandung unsur ancaman, sumber tidak jelas, dari media yang tidak jelas, hendaknya kita melakukan check and recheck. Jangan cepat-cepat disebarluaskan. Apalagi yang menyangkut SARA,” jelasnya.

Menurut Ismail, sekarang ini pengguna telepon genggam di Indonesia mencapai 320 juta. 130 juta pengguna tersambung dengan koneksi internet dan 54% dari jumlah tersebut adalah generasi muda.

“Artinya, 70,2 juta pengguna ini menjadi tanggungjawab keluarga,” tegasnya.

Senada dengan Ismail, Budi irawanto menanggapi bahwa revolusi mental sudah menjadi tanggungjawab bersama. Ia mengamati anak-anak jaman sekarang sudah memakai telepon genggam dan gawai sehingga meninggalkan permainan kelompok dan mengurangi kreativitas.

“Sekarang serba instan, anak-anak tak lagi membuat mobil-mobilan dengan kulit jeruk bali. Ini utamanya menjadi tanggungjawab orang tua dalam pengawasan penggunaan gadget,” terang Budi Irawanto.

Hal ini disampaikan dalam dialog sebelum pelaksanaan sosialisasi lewat wayang kulit dengan dalang Ki Canggih Tri Atmojo dari Solo dengan mengambil lakon Wirata Parwa yang digelar di lapangan Desa Dander. Pagelaran wayang kulit ini disaksikan oleh warga setempat.

Wirata Parwa sendiri, menurut dosen ISI Surakarta Hariyadi, adalah sebuah lakon yang menggambarkan komitmen dari Pandhawa ketika kalah taruhan dadu dengan Kurawa dan harus dihukum 12 tahun di negeri Wirata. Para Pandhawa konsekwen, dan dalam pengasingannya mereka menyamar untuk memerangi karena para Kurawa ternyata ingin menggulingkan raja di Amarta yang sah.(*mcb)

Leave a Comment