Share

Petani Bantaran Bengawan Solo Perlu Alat Modern

Bojonegoro, 31/7 (Media Center) – Petani di sepanjang aliran sungai Bengawan Solo setiap tahunnya selalu menggantungkan pengairanya saat musim tanam dari aliran sungai. Inilah sebabnya, mereka tetap bisa menanam padi meskipun memasuki musim kemarau.

“Tanah di sepanjang aliran sungai Bengawan Solo termasuk subur karena ketersediaan air yang cukup,” kata salah satu warga Desa Trucuk, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Bojonegoro, Didik Setiawan.

Menurut pria 40 tahun ini, meskipun sektor pertanian di wilayahnya memberikan keuntungan melimpah bagi petani, namun belum bisa menarik minat para pemuda usia produktif untuk bertani.

“Jadi, masih susah mencari buruh tani sekarang ini. Rata-rata usia 40 tahun keatas dan belum ada regenerasi,” tukas Didik.

Banyak alasan kenapa masih banyak yang belum berminat bekerja di sektor pertanian, termasuk dirinya yang memilih untuk berdagang ini. Selain harus memiliki modal besar, menjadi petani bagi kaum muda sekarang ini bukan termasuk pekerjaan bergengsi.

“Masih dianggap pekerjaan kuno dan kotor,” ungkapnya.

Oleh sebab itu, butuh rangsangan bagi para pemuda supaya mau menjadi petani. Atau paling tidak, inovasi baru berupa alat modern yang bisa digunakan pemuda dari masa tanam sampai masa panen.

“Bisa juga seperti itu,” tandasnya.

Dengan adanya industri manufaktur di Desa Trucuk, maka bisa dipastikan akan membuka peluang pekerjaan bagi pemuda terlebih yang masih menganggur setiap tahunnya.

“Dan butuh pemahaman bahwa tidak selamanya sektor pertanian ini harus mengikuti tren jaman sekarang,” tukasnya.(*dwi/mcb)

Leave a Comment