Share

Petani Tembakau Bojonegoro Kesulitan Peroleh Air

Bojonegoro (Media Center) – Sejumlah petani di wilayah selatan Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, mulai kesulitan memperoleh air untuk menyirami tanaman tembakaunya. Hal ini disebabkan potensi sumber air di daerahnya, baik sungai maupun embung, juga lainnya, mengering.

“Petani mulai was-was (khawatir) soal pertumbuhan tembakaunya, sebab sulit memperoleh air,” kata seorang petani di Desa Panjang, Kecamatan Kedungadem, Bojonegoro Abdul Sidiq, Sabtu (1/8).

Ia menyebutkan areal tanaman tembakau di desanya, juga di desa lainnya, rata-rata berusia sekitar sebulan, sehingga membutuhkan air untuk perkembangannya.

“Sumber air di daerah kami sudah kritis,” ujarnya.

Kepala Bidang Usaha Perkebunan Dinas Perhutanan dan Perkebunan Bojongoro, Khoirul Insan membenarkan, jika petani telah tanam tembakau sekitar satu bulan silam. Persoalan suplai air juga menjadi masalah bagi petani mengingat, umur tembakau satu bulan sedang butuh air.

“Wajar jika petani was-was,” ujarnya.

Sesuai data di Dishutbun, luas areal tanaman tembakau Virginia Voor Oogst (VO) dan Jawa, juga jenis rajangan amil (RAM), mencapai 6.400 hektare.

Dengan rincian, tembakau jenis Virginia VO sebanyak 4.000 hektare, jenis tembakau Jawa seluas 2000 hektare dan jenis RAM 400 hektare, melalui program kemitraan dengan PT Sedana Ngawi.

Ia juga menyebutkan jika dalam kondisi suplai air normal, maka produksi tembakau saat panen bisa mencapai 1,3 ton/hektare. Tetapi, tentu saja dengan iklim yang normal, dimana tidak ada masalah dengan pengairan.

Namun, dengan kondisi sekarang ini dimana suplai air kecil akibat kemarau, produksinya tidak bisa optimal.

“Mungkin bisa mengganggu produksi tembakau. Semoga saja ada suplai air, agar petani bisa menyirami tanaman tembakaunya,” imbuhnya.

Ia menambahkan kebutuhan pabrikan pada musim tanam tembakau tahun ini mencapai 5.967 ton tembakau kering rajangan dan krosok. Rinciannya, antara lain Djarum Kudus 4.000 ton, PT Noroyono Solo 267 ton, dan PT Putra Bakti Utama 150 ton, UD Sumber Mulyo 750 ton, dan STTC 800 ton.

“PT Gudang Garam sudah beberapa tahun terakhir tidak melakukan pembelian tembakau di Bojonegoro,” tandasnya.(dj/*mcb)

Leave a Comment