Share

PNS Bojonegoro Akan Jalani Pendidikan Ke Belanda

Bojonegoro (Media Center) – Salah seorang pegawai negeri sipil (PNS) Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, Nove Zain Wisuda, akan menjalani pendidikan kesehatan di “Kolonial Institut” (KIT) di Belanda, pada 29 Februari sampai 11 Maret.

“Saya berkesempatan menjalani pendidikan di KIT, karena memperoleh bea siswa dari Pemerintah Belanda,” kata Nove Zain Wisuda, staf di RSUD Sosodoro Djatikoesoemo Bojonegoro, kepada kanalbojonegoro, Rabu (12/1).

Menurut dia, kepastian bisa belajar kesehatan di KIT ( dalam Bahasa Belanda “Kloninklijk Instituut Voor de Tropen”) berdasarkan surat email yang diterima dari, pada 7 Januari lalu.

“Saya akan mempelajari “human resources for health” (sumber daya manusia bidang kesehatan),” ucap Nove, alumnus Universitas Indonesia (UI) jurusan Kesehatan Masyarakat itu.

Studi itu, lanjut dia, sesuai dengan artikel yang disampaikan kepada KIT sebagai persyaratan, dalam mengajukan permohonan bisa belajar di KIT, pada Oktober 2015.

Selain artikel, lanjut dia, juga disampaikan berbagai persyaratan lainnya, mulai translate ijasah, sampai kemampuan dalam berbahasa Inggris.

Di dalam artikel itu, lanjut dia, digambarkan kesulitan tenaga kesehatan yang ada di daerah untuk mengembangkan kemampuannya, karena jauh dengan pusat pengembangan kesehatan di kota besar yang pelayanan kesehatannya sudah bagus.

“Kemungkinan saya bisa diterima, karena saya lokasinya di daerah atau desa,” ucapnya, memperkirakan.

Sesuai data, katanya, KIT dalam bahasa inggris “The Royal Tropical Institute” berdiri, pada 1864.

Didirikan oleh Colonial Museum di kota Harleem, dengan tujuan untuk pengembangan ilmu dan pendidikan. Semula, KIT berisi koleksi artefak budaya dan antropologi dari wilayah Hindia Belanda.

Selain itu, museum juga melakukan penelitian dengan tujuan peningkatan produksi dan pengolahan hasil tropis seperti kopi, rotan, parafin

“Pada 1910 didirikan “Colonial Institute” yang merupakan pengabungan dengan “Colonial Museum”, di Amsterdam,” jelas dia.

Pembangunan gedung, lanjutnya, dimulai 1915, didesain dengan memperlihatkan keanekaragaman budaya daerah koloni Belanda, dengan masa waktu pembangunan selama 11 tahun.

“Seluruh biaya pendidikan, penginapan, juga perjalanan pulang pergi dari Tanah Air ke Belanda, semuanya ditanggung Pemerintah Belanda,” jelasnya. (*/mcb)

Leave a Comment