Share

Pusat Optimis Bojonegoro Bisa Wujudkan Lumbung Pangan

Bojonegoro (Media Center) – Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Sumber Daya Hayati Kementerian Koordinator Perekonomian, Diah Maulida, menyatakan rasa optimisnya Bojonegoro dapat menjadi lumbung pangan.

“Saya melihat pak bupati dan petaninya memiliki semangat besar untuk menjadikan Bojonegoro sebagai lumbung pangan,” kata Diah saat menghadiri panen raya bawang merah dan launching Cyber Extension (Cybex) di Desa Duwel, Kecamatan Kedungadem, Senin (6/1/2014).

Hal senada juga disampaikan perwakilan Direktur Telkom, pihaknya menyatakan, keinginan Bupati Suyoto mengajak masyarakat untuk maju sangat besar. Terutama dalam mengajari masyarakat tentang internet. Dengan cara ini masyarakat dapat membuka akses lebih luas. Baik belajar maupun memasarkan produksinya.

“Sehingga peluang untuk mewujudkan Bojonegoro sebagai lumbung pangan sangat besar,” sambungnya. Sementara itu, Bupati Bojonegoro, Drs H Suyoto MSi mengatakan, Bojonegoro merupakan kabupaten/kota ke enam di Indonesia yang memiliki lahan pertanian paling luas. “Dengan luas lahan yang dimiliki itu Bojonegoro dapat menjadi pemasok pangan nasional,” katanya.

Untuk saat ini, produksi padi di Bojonegoro telah mencapai 870 ton per tahun. Jumlah itu ditargetkan meningkat menjadi 930 ton pada 2014. Sedangkan luas areal bawang merah di Bojonegoro saat ini seluas 2000 hektar yang tersebar dibebarapa kecamatan dengan produksinya per hektar mencapai 10 ton.

“Produksi ini akan terus meningkat dengan pembangunan seribu embung. Karena areal lahannya akan semakin luas dan masa tanam petani bisa lebih dari dua kali,” sambung Suyoto. Menurut Suyoto, tanaman bawang merah ini jauh lebih menguntungkan dibanding tanaman padi. Untuk per hektarnya tanaman bawang merah bisa menghasilkan sekira Rp120 juta. Sedangkan padi hanya Rp20 juta per hektarnya.

“Saya menargetkan dalam setahun petani bisa menambah masa tanam dari dua kali menjadi tiga kali,” tegas Kang Yoto. Tak hanya itu, Suyoto telah memerintahkan Dinas Pertanian (Disperta) Bojonegoro untuk menyekolahkan petani ke Institut Pertanian Bogor (IPB) agar dapat membuat pembibitan. Sehingga tidak ketergantungan dengan bibit dari luar daerah yang harganya mahal.

“Kita juga akan membuat resi gudang untuk menampung hasil produksi. Juga perbankan untuk menyimpan uang hasil panen agar mereka bisa menyimpan uangnya untuk biaya tanam,” papar Kang Yoto.

Selain itu, dirinya juga telah meminta Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Perindag) harus mengajari petani untuk membuat bawang goreng dengan memanfaatkan bawang merah yang kondisinya jelek.(numcb)

Leave a Comment