Share

Rendeng Malo Bojonegoro Menggeliat “Keren”

Bojonegoro (Media Center) – Desa Rendeng, di Kecamatan Malo, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, yang lokasinya di tepian Bengawan Solo, sudah lama menjadi sentra kerajinan gerabah tradisional yang antik.

Produk gerabah di desa setempat antik, karena mengedepankan bentuk tradisional, mulai celengan binatang bebek, harimau, juga binatang lainnya, dengan pemasaran terbesar di berbagai kota di Jawa Tengah.

Namun, sejumlah perajin gerabah di desa setempat, mulai mengeliat menciptakan gerabah model boneka “keren” dengan mengambil tokoh film kartun di TV, mulai spongebob, patrick, marsha, juga boneka lainnya, sejak Juni lalu.

“Atas saran petugas Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) kami diminta memasang spanduk bertuliskan wisata edukasi,” kata seorang perajin gerabah di Desa Rendeng, Kecamatan Malo, Bojonegoro Thalhah (33), di kediamannya, pekan lalu.

Sesuai saran petugas itulah, sebagaimana dituturkan Thalhah, di setiap lorong di tepi jalan di desa setempat yang perajinnya membuat gerabah boneka modern terpasang spanduk yang cukup mencolok dengan tulisan Wisata Edukasi.

Padahal, lanjut dia, perajin awalnya membuat gerabah modern berupa berbagai aneka motif boneka tokoh film kartun untuk meningkatkan daya jual, dibandingkan dengan membuat gerabah tradisional.

“Yang pertama kali menciptakan berbagai aneka produk gerabah boneka modern, adik saya namanya Tabah (30). Inspirasinya, ya dari melihat film kartun di TV,” jelas dia.

seperti dijelaskan bahwa dalam membuat gerabah berbagai aneka boneka itu, katanya, tidak dibuat dengan tangan langsung, secara manual, tetapi memanfaatkan cetakan gips.

Baru Empat Perajin
Hanya saja, lanjut dia, perajin yang membuat gerabah boneka modern baru empat perajin, yaitu, selain dirinya, Tabah, juga Mochtarom dan Ismail.

Perajin lainnya di desa setempat yang jumlahnya seratusan perajin lebih, lanjut dia, masih bertahan membuat gerabah tradisional, dengan alasan sudah memiliki pasar yang tetap seperti ke Solo, atau Yogyakarta.

“Seorang perajin mampu memproduksi sekitar 70 gerabah mentah, sebab teknis pembuatannya memanfaatkan alat cetak gips. Tapi, belum termasuk membakar dan mewarnai,” jelasnya.

Menurut dia, setelah ada produksi gerabah modern itu, lokasi Desa Rendeng, Kecamatan Malo, mulai sering dikunjungi siswa PAUD, juga SD, untuk wisata edukasi.

Di lokasi setempat, para siswa bisa melihat cara pembuatan gerabah mulai mencetak, membakar, sekaligus para siswa diajak ikut mewarnai.

“Rata-rata kunjungan siswa PAUD atau SD ke lokasi di sini bisa 10 kali per bulan,” ucapnya, menegaskan.

Para siswa yang berkunjung ke lokasi setempat, katanya, memperoleh hadiah gerabah boneka modern dan siswa yang keluar sebagai juara mewarnai memperoleh piala gerabah berupa tugu Adipura.

“Ketika ada kunjungan siswa itu, selain guru-guru, juga orang tua yang mengantar banyak yang membeli gerabah berbagai boneka, yang harganya mulai Rp3.000 sampai Rp10.000 per boneka,” jelas dia.

Karena sering dikunjungi siswa itulah, lanjut dia, atas saran petugas Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) di desa setempat di setiap lorong menuju lokasi perajin dipasang spanduk dengan tulisan “Wisata Edukasi”.

Ia menambahkan perajin juga memasarkan berbagai aneka gerabah boneka modern ke berbagai kota, seperti Gresik dan Surabaya.

“Kita pasarkan sendiri langsung ke toko-toko hiasan di luar kota, seperti Gresik dan Surabaya,” ucapnya, menegaskan.

Seorang warga Desa Sukorejo, Kecamatan Kota, Bojonegoro Slamet, menambahkan lokasi Desa Rendeng, Kecamatan Malo, menjadi obyek wisata edukasi sudah berjalan lama, tapi sekarang semakin berkembang dengan adanya produk boneka modern.

“Dulu siswa SD juga banyak yang datang ke Rendeng untuk mengetahui proses pembuatan gerabah sampai mewarnai,” ucapnya.

Mencapai Desa Rendeng, Kecamatan Malo, tidaklah sulit, hanya berjarak sekitar 24 kilometer dari Kota Bojonegoro. Lokasinya dari jalan raya di Kecamatan Kalitidu, ke arah utara kemudian melintas jembatan Bengawan Solo.(*/mcb)

Leave a Comment