Share

Ribuan Tumpeng di Grebeg Berkah Jonegaran

Bojonegoro (Media Center)  – Malam puncak peringatan Hari Jadi Bojonegoro (HJB) ke 338 akan diawali dengan kirab api abadi dari Kayangan Api dan ditutup dengan Grebeg Berkah Jonegaran di Alun-alun Bojonegoro, Senin (19/10) malam, sekitar pukul 19.00 WIB.

Agenda tersebut diawali dengan prosesi pengambilan api abadi di obyek wisata Kahyangan Api di Desa Sendangrejo, Kecamatan Ngasem yang akan dilaksanakan pukul 13.00 WIB. Seperti tahun lalu, api abadi dikirab menuju Pendapa Malowopati.

Dalam prosesi ini akan dilakukan sejumlah ritual. Yakni mengitari lokasi api abadi sebanyak tiga kali yang diikuti oleh sejumlah waranggana. Dilanjutkan oleh Muspika dan Kepala Desa di wilayah Ngasem. Tak lupa, para pelaku ritual memakai pakaian adat Jawa dan menyiapkan sesaji yang diberikan kepada juru kunci Kayangan api.

Rencananya, pengambilan api abadi dilakukan oleh Kepala Desa Sendangharjo, untuk kemudian diserahkan kepada Camat Ngasem. Selanjutnya api abadi itu diberikan kepada petugas pembawa api abadi untuk dikirab langsung menuju Bakorwil Bojonegoro dengan menempuh perjalanan sepanjang kurang lebih 20 kilometer.

Diperkirakan, api abadi akan tiba di depan Kantor Bakorwil Bojonegoro sekira pukul 16.30 WIB. Sesampainya di depan Bakorwil, obor api diserahkan kepada Ketua Panitia HJB untuk diberikan kepada Kepada Ketua DPRD Bojonegoro.

Kemudian api dibawa menuju Pendapa Malowopati dan diserahkan kepada Bupati Bojonegoro, Suyoto, untuk disemayamkan.

Setelah itu dilaksanakan ritual di depan pendapa. Usai ritual dilanjutkan grebeg berkah Jonegaran. Bupati Bojonegoro, Suyoto bersama Wakil Bupati, Setyo Hartono, beserta istri dan Forum Pimpinan Daerah (Forpimda) akan menggunakan pakaian adat Jawa dalam kirab gunungan.

Kegiatan tahunan ini akan diawali dengan kirab gunungan raksasa yang berisi hasil bumi ke Alun-alun Bojonegoro. Kemudian acara dilanjutkan dengan brencah ribuan tumpeng secara bersama-sama di alun-alun.

“Kami harapkan masyarakat untuk datang ke alun-alun. Ada ribuan tumpeng yang bisa kita santap bersama-sama Kang Yoto,” kata Ketua Panitia HJB ke 338, Hanafi.

Dia menjelaskan, kegiatan tahunan ini merupakan salah satu upaya untuk melestarikan budaya Bojonegoro.
“Prosesi ini sekaligus juga bentuk syukur atas berkah hasil bumi yang diberikan kepada masyarakat Jonegoro,” pungkas pria yang menjabat sebagai Kepala Dinas Pendidikan Bojonegoro ini.(*mcb)

Leave a Comment