Share

Rp 16 T dari Tanaman Porang

Sebanyak 1.918 masyarakat tepian hutan yang tergabung di sejumlah kelompok-kelompok Lembaga Masyarakat Daerah Hutan (LMDH) di Bojonegoro mempunyai komoditi alternatif di sektor perkebunan.

Adalah tanaman Porang atau Jarak yang kini luasan areal pengembangannya mencapai 4000 m2 yang tersebar di beberapa kecamatan, khususnya yang ada di kawasan hutan. Dalam uraiannya, Zaenal Fanani,SPi,MP, selaku Kabid Bina Perhutanan di Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Bojonegoro, pemilihan tanaman Porang ini telah sesuai dengan kondisi geografis dan budaya masyarakat.

“Sebagian besar lahan produktif kita ada di wilayah hutan, tanaman porang ini cocok dikembangkan karena nilai ekonomisnya tinggi,” demikian dipaparkan.

Sebagai gambaran, 35% jumlah keluarga miskin di Bojonegoro tinggal di wilayah sekitar hutan. Yang menurut Zanani, hal itu menjadi salah satu pertimbangan utama pelibatan LMDH dalam mengembangkan tanaman porang.

“Apabila ada 1000 Ha saja yang ditanami porang maka akan ada tambahan pendapatan sebesar Rp 60 M apabila dijual dalam bentuk basah,” jelasnya. Nilai ekonomis tersebut menjadi berlipat apabila porang dijual dalam olahan yang sesuai dengan kebutuhan pasar internasional (Klik sini: Data budidaya porang di Bojonegoro pada tahun 2012)

Porang sendiri dikenal sebagai tanaman yang dapat tumbuh dengan baik di wilayah tropis, kandungan glukoman yang sangat tinggi, mencapai 80%, membuat tanaman Porang sebagai bahan utama tepung glukoman.

“Per september 2013 lalu, harga pasar tepung glukaman mencapai sekitar Rp 26 juta per kilogramnya,” jelasnya. Ini berarti saat target 1.000 hektar budidaya porang di Bojonegoro tercapai, dengan asumsi pengolahan tanaman ini menjadi tepung dengan kadar glukoman puncak, maka menurut Zanani, secara ekonomis Bojonegoro akan mendapatkan tambahan pendapatan sekitar Rp 16 Trilliun.

Perkembangan jumlah lahan hutan yang menjadi budidaya porang di Bojonegoro sendiri, sejak pertama kali dikenalkan pada 2012 lalu, terbilang cukup besar, yakni mencapai 1.000 m2 persegi pertahunnya, dengan kapasitas panen berkisar 1 ton per seribu meter perseginya. Secara ekonomis, pelaku budidaya porang di Bojonegoro sendiri telah menikmati hasilnya, tak kurang dari kisaran angka Rp 30 juta per tahun untuk tiap kelompok LMDHnya.

Lebih jauh, Zanani menyebut hampir seluruh benua yang ada di dunia merupakan pangsa pasar yang membutuhkan pasokan hasil olahan porang ini. (Mcbjn)

Leave a Comment