Share

Rujak Cingur Yang Membuat “Cetar” Di Lidah

Bojonegoro (Media Center) – Menu makanan khas Jawa Timur, rujak cingur yang dinobatkan Perhimpunan Peminat Gizi Pangan (Pergizi Pangan) Indonesia, sebagai makanan bergizi seimbang, bisa diperoleh dimana saja, di Tanah Air.

Salah satunya, di “Waroeng Ireng” di Desa Ledokkulon, Kecamatan Kota, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, yang dikelola Sri Wilujeng Natalia Rosita (49).

Rujak Cingur Bojonegoro.

Menu rujak cingur yang satu ini, bisa membuat “Cetar” di lidah. Terbukti rujak cingur di warung setempat mampu menimbulkan rasa kangen, bagi pelanggannya, meskipun generasi pengelolanya sudah berganti.

“Saya semula ragu mengelola “Waroeng Ireng”, karena saya menantu,” kata Lina, demikian panggilan sehari-hari, dalam perbincangan dengan kanalbojonegoro, pekan lalu.

Namun, ia kemudian memberanikan diri mengelola “Waroeng Ireng” yang dirintis ibu mertuanya Ny. Kutik, yang meninggal dunia, beberapa tahun lalu.

“Saya mencari pekerja yang terampil membuat rujak cingur, sedangkan menu khas lainnya “wedang” tape ketan hitam untuk pemrosesannya saya sendiri,” katanya, menegaskan.

Iapun kemudian mengubah pola kerja “Wareng Ireng”, yang semula dikelola mertuanya Ny. Kutik yaitu buka malam hari berkisar pukul 22.00 WIB sampai pagi dini hari, kemudian berganti buka sore hari sejak pukul 18.00 WIB.

“Kalau tutupnya terserah, sebab warung ini menempati rumah sendiri,” katanya.

Alhasil, dengan masih mempertahankan rujak cingur dan “wedang” tape ketan hitam pelanggannya terus bertambah.

Bahkan, warga daerah setempat, yang sudah puluhan tahun menetap ke daerah lain, bisa dipastikan kalau pulang ke kampungnya di Bojonegoro, akan menyempatkan datang ke “waroeng ireng”, untuk menikmati rujak cingur plus wedang tape ketan hitam.

“Satu porsi rujak cingur Rp15.000 dan wedang ketan hitam Rp5.000. Harga itu teta sudah lama,” ucapnya.

Rasa “cetar” rujak cingur di warung setempat, tidak hanya ketika penikmat meminta rasa pedas, tapi rasa kental bumbu rujak cingur yang dipadu dengan cingur sapi, akan membuat penikmatnya ketagihan.

“Saya setiap pulang ke Bojonegoro makanan wajib saya, ya, rujak cingur di “waroeng ireng” dan wedang tape ketan hitam,” jelas warga Bogor Lies Pudjiastuti, masa kecilnya pernah tinggal di Bojonegoro dan makan di “waroeng ireng”.

Menurut dia, menu rujak cingur dan “wedang” ketan hitam tidak hanya dirinya yang suka, tapi juga temannya yang sudah menetap di berbagai kota di Tanah Air, selalu mendambakan makan, ketika pulang ke Bojonegoro.

Untuk bisa menyantap pembeli memang harus antre, karena bisa dipastikan ketika mulai warung buka langsung diserbu pembeli, hingga membeludak ke teras. Maklum, menyanyikan rujak cingur harus diproses secara manual satu persatu.

“Soal cingur tidak ada masalah selalu ada, sebab saya sudah memiliki langganan cingur di pasar,” jelas Lina.

Meski harus antre, pembeli bisa memesan wedang tape ketan hitam yang bisa dilayani dengan cepat, sambil menunggu rujak cingur, yang bisa membikin rasa cetar di lidah. Mulai rasa cetar pedasnya, atau sensasi kenyil-kenyil cingur yang dipadu dengan mewahnya bumbu sambal dengan aroma petis.

Ndak percaya? Silahkan datang dan menikmati. (*/mcb)

Leave a Comment