Share

SANG GURU LAHIR DAN BATIN

Bagaimana menjadi guru yang baik? Bagaimana menjalin hubungan lahir dan batin antara guru dan murid? Tulisan ini ditujukan untuk semuanya yang mau memetik hikmahnya, karena menjadi guru adalah tugas kita semua, bukan hanya sebatas profesi semata.

Semua insan mampu menjadi guru yang baik. Guru kehidupan lahir dan batin. Syahdan di suatu doyo, di tempat latihan bela diri, sesama murid bisa menjadi guru bagi yang lainnya. Diawali dengan streching, sesama murid bisa berlatih bersama dan bisa menjadi guru satu sama lainnya, sebelum instruktur memulai latihan atau sedang melatih kelompok lainnya. Masing-masing membentuk kelompok yang terdiri dari dua orang. Dua orang ini saling bekerja sama dan saling memberi aba-aba. Diawali dengan saling memberi hormat, merenggangkan tangan, kepala, kaki, dan seluruh badan. Dengan ragam stretching saling memegang kaki bergantian pushup, mengangkat dada, dan gerakan lainnya saling menjadi guru satu dengan yang lainnya. Indah sekali.

Syahdan, suatu saat di hari Sabtu, hari liburnya nasional dan hari bersantai nasional, terjadilah suatu percakapan dosen-dosen program studi suatu perguruan tinggi. Percakapan yang santai, namun tiba-tiba berubah menjadi serius. Percakapan tersebut dimulai dengan harapan dosen bisa menjadi tauladan peserta didik.

Tiba-tiba dimunculkan komentar anak didik mereka yang memberikan komentar pada suatu acara seminar nasional atas kondisi institusi bapak ibu dosen yang sedang bercakap-cakap tersebut. Anak didik tersebut berkomentar, proses, dan dosen serta rangking institusinya yang rendah dibandingkan institusi yang lainnya di negara tersebut. Komentar yang dimunculkan tersebut tiba-tiba menyulut dosen yang lainnya.

“Ini pasti mahasiswa yang trouble maker karena tidak menjaga institusinya sendiri,” dosen A menyahut.

“Bagaimanapun mahasiswa yang menjelekkan institusi kita di depan umum itu tidak etis. Harus diberi pelajaran,” dosen B menyahut,.

“Civitas akademik sekaligus mahasiswa tidak boleh menjelekkan instansi sendiri, apalagi di depan publik,” dosen C menyahut.

“Harus dipanggil dan diberi pelajaran,” dosen D menyahut.

Paling-paling mahasiswa tipe seperti ini adalah mahasiswa yang tidak memenuhi kualitas standar. Biasanya mahasiswa
seperti itu selalu banyak omong dan protes. Apa yang terjadi? Diskusi semakin memanas apalagi ditemukan bukti-bukti bahwa
mahasiswa ini ternyata pengurus suatu himpunan mahasiswa. Singkat kata, diperoleh simpulan bahwa harus memanggil mahasiswa tersebut.

Dosen adalah gurunya mahasiswa. Apakah kita menjadi dosen semata-mata berada dalam level ekonomi ataukah sudah sebagai guru dan pendidik?

Sebelum memanggil mahasiswa tersebut ada baiknya semuanya merenungkan apakah sudah memberi contoh yang baik. Contoh ringan tapi mendalam adalah dalam hal tanda tangan.

Wow…semuanya ingin tanda tangan presensi lengkap jika kehadiran dosen masih manual, padahal pemalsuan tanda tangan kehadiran adalah pelanggaran berat. Ibaratnya kalau kebijakan Ahok menonjobkan kepala desa ketika diketahui kepala desa tersebut berbuat curang ini diterapkan pada suatu institusi tersebut, maka habislah staf pengajar di instansi-instansi yang masih manual presensi kehadirannya.

Belum lagi dosennya membuat artikel copi paste jurnal sana-sini, mengajar sering telat, melaksanakan tri darma perguruan tinggi
bidang pengabdian masyarakat tidak semestinya. Di sini, sekali lagi berilah contoh terbaik untuk mahasiswa.

Syahdan mahasiswa yang dicap nakal tersebut ternyata menunjukkan prestasi di tempat lain, pernah menjadi ketua kelas di kelas yang dosen lainnya mengajar. Ternyata dosen G memberi resepnya memberi tanggungjawab yang luar biasa, yaitu menjadikannya ketua kelas

Hari pertama dia memang paling vokal. Hari ke dua masih seperti hari pertama, tapi semua pekerjaan hari pertama dan kedua dibagi sambil memuji dan memotivasi serta memberi tanggungjawab sebagai ketua kelas. Ketika ada tugas, dia selalu yang mengingatkan temannya di kelas. Mungkin dia harus dikasih rule of the game yang ketat sejak awal dan diberi kepercayaan untuk membantu di kelas. Begitu resep yang disampaikan dosen tersebut.

Justru menghadapi kasus sepert itu, sebagai dosen harus pintar-pintar memupuk bakat leadernya menjadi leader yang baik, bukan mematikannya. Sebaiknya kita juga perlu mengenal metoda pengajaran yang lain, yang tidak melulu berorientasi fisik lahiriah semata, namun juga menyentuh aspek batiniah melalui doa.

Lalu apa hubungan doa dengan metoda pengajaran? Ada baiknya kita menyimak pola pengajaran yang diterapkan di pondok pesantren-pondok pesantren. Hanya untuk perbandingan. Metoda pengajaran di pondok muridnya sangat hormat sekali pada gurunya walaupun gurunya tidak dibayar tapi gurunya mau mendoakan muridnya agar ilmunya bermanfaat.

Sekarang gurunya saja tidak mau mendoakan muridnya gimana muridnya mau nurut sama gurunya. Syahdan ada kasus tentang kenakalan santri. Ada sepuluh santri yang dianggap nakal. Sang Guru meminta sepuluh nama tersebut beserta nama ayahnya. Apa yang dilakukan Sang Guru? Setiap selesai sujud sholat malamnya, Sang Guru selalu menengadahkan tangan dan menyebut satu per satu nama sepuluh muridnya dengan khusuk, memohonkan tobat, memohonkan ampun, dan memohonkan berkah kemuliaan untuk sepuluh muridnya yang dianggap nakal.

Doa-doa yang indah dipanjatkan untuk sepuluh muridnya yang terkenal nakal. Apakah artinya doa? Seorang guru yang menghadiahkan doa untuk muridnya, dalam heningnya malam, dalam kerahasiaan, adalah yang mudah dikabulkan. Mengapa?

Sebab doa yang dipanjatkan seperti Sang Guru itu penuh keikhlasan. Keikhlasan memiliki nilai kekuatan yang sangat tinggi. Bahwa barang siapa, yang mengasihi yang di bumi, maka yang di langit akan mengasihi, berlakulah hukum timbal balik.

Akhirnya, untuk kekayaan pendidikan maukah kita menjadi guru yang mendekati sang murid dengan lahir dan batin? Semoga kita diberi pertolongan Tuhan untuk hal-hal yang baik & indah dalam hubungan guru dan murid. Amin.

sri

 

Penulis: Sri Suryaningsum, Doktor Akuntansi, Dosen FE UPNVY.

Kapuslitbang LPPM UPNVY.

Email: suryaningsumsri@yahoo.com)

Leave a Comment