Share

Sentra Murai Batu Medan Tak Lagi “Berkicau”

Medan, 5/4 (Media Center Bojonegoro) – Sepasang suami istri di lokasi Pasar Burung di Medan itu terduduk lesu. Sang suami tersandar di terali pintu besi sebuah toko, didampingi istrinya duduk berselonjor.

Di sekelilingnya sejumlah sangkar berisi berbagai aneka burung, bahkan ada juga sangkar yang berisi ayam hanya terpajang baik di atas dan di lantai trotoar tanpa satupun ada pembeli yang datang mendekat.
“Pokoknya kita, pedagang burung disini serba sulit pak, sudah tidak ada barang, penghasilan kecil sekali,” kata Manto seorang pedagang burung di Jalan Bintang Medan dalam perbincangan dengan reporter Media Center Bojonegoro, Rabu (4/4/2018).

Para pedagang burung di pasar burung setempat, sebagaimana dijelaskan Manto, sebelum ini setiap saat bisa memperoleh pasokan dari pemikat/pemburu dan pedagang burung dari sekitar Aceh, akan tetapi dalam beberapa tahun terakhir nyaris tidak ada pasokan.

“Ya, kita hanya “bermain-main” (menjual) burung-burung kecil,” ujarnya seraya menyebutkan beberapa burung kecil selain Murai Batu, antara lain, burung kenari, kacer, “love bird”.

Selain Murai Batu, burung-burung kecil yang dimaksud harganya relatif murah, berkisar Rp50.000-Rp300.000/ekor.
“Dulu kita lumayan hasilnya saat masih menjual Murai Batu Aceh, bisa laku Rp1,9 juta per ekor. Untung kita bisa sampai seratus persen, apalagi kalau burung Murai Batu kualitas bagus harganya bisa sampai Rp5 juta. Sekarang ini tahulah sendiri bapak,” ujarnya.

Meski demikian, sebagaimana dikatakan dia, terkadang masih ada Murai Batu Aceh, akan tetapi harganya untuk bakalan bisa mencapai Rp3 juta per ekor.

“Kita sudah tidak menjual lagi murai batu medan yang sebenarnya banyak berasal dari Aceh karena perkembangannya tidak menentu,” katanya menegaskan.

Yang jelas Kota medan bagi penggemar burung “kicau mania” sudah sangat tidak asing, khususnya burung Murai Batu. Menyusuri kedai burung (istilah pasar burung di Medan) di Jalan Bintang yang merupakan tempat perdagangan berbagai satwa terbesar di Kota Medan.

Beberapa tahun silam di pasar setempat dikenal merupakan pemasok utama satwa khususnya burung Murai Batu ke berbagai pasar burung di kota kota besar di Indonesia, antara lain, Pasar Pramuka di Jalan Pramuka Jakarta, Pasar Burung Kupang di Surabaya dan pasar burung di kota lainnya.

Kondisi Berbeda
Kondisi sekarang jauh berbeda dengan lima tahun lalu saat Reporter MC datang di kedai burung ini. Lima tahun lalu banyak di jumpai berbagai jenis burung Murai Batu dari berbagai tempat di sekitar kota Medan seperti dari pulau Nias, Aceh, Padang, menghiasi kios pedagang burung.

Saat ini bisa dihitung dengan jari jumlah kios burung yang memajang burung Murai Batu dengan jumlah yang tidak banyak.

Seperti di kios pedagang paling besar di kedai burung Bintang milik Amin yang hanya memajang lima ekor Murai Batu, padahal lima tahun lalu jumlah Murai Batu yang dipasarkannya, ratusan ekor.

Begitu pula sekarang puluhan kios lainya disekitarnya, hampir tidak dijumpai adanya burung yang memiliki suara paling indah di dunia itu.

Seperti disampaikan Asisten Toko Milik Amin, Siyan saat di jumpai, mengatakan bahwa akhir-akhir ini Murai Batu sulit.
“Hampir tidak pernah kita memperoleh murai dari Aceh,” kata dia menjelaskan.

Menurut dia, minimnya pasokan murai dari Aceh disebabkan kelangkaan murai di hutan sekitar Aceh serta menyusul dikeluarkannya “Qonun” (Peraturan) Pemerintah Daerah yang melarang burung yang memiliki ekor panjang dan bersuara merdu sebagai ciri khas nya, keluar dari daerah Aceh untuk diperjuangkan belikan.

Seorang distributor Murai Batu di Pasar Pramuka Jakarta Heri S, yang dimintai konfirmasi mengatakan hal yang sama terkait kelangkaan Murai Batu di Pasar Burung Medan.

Ia memberikan gambaran saat ini dari ratusan Murai Batu yang dia datangkan secara rutin setiap dua pekan sekali diketahui maksimal hanya tiga ekor yang asal Medan.

“Dari ratusan Murai batu yang saya datangkan kadang-kadang hanya ada satu saja, paling banyak tiga ekor yang asli Medan. itu pun saya datangkan sudah tidak dari Medan lagi tapi dari kota Batam sedangkan ratusan murai tersebut dari negara Malaysia dan Thailand,” kata dia menjelaskan.

Ironis memang keberadaan Murai Batu saat ini, satu sisi kelangkaan dihabitatnya memprihatinkan disisi lain perdagagangan Murai Batu membuat banyak pedagang mengharapkan rejeki dari keberadaannya.

Seharusnya pemerintah tidak hanya melarang penangkapannya saja tapi memberikan solusi yang tepat agar semua pihak dapat memperoleh manfaat.

Perlu dipikirkan fasilitasi pemerintah kepada para peternak murai batu di berbagai tempat baik di Aceh, Medan maupun tempat tempat lain di seluruh Nusantara, agar persoalan kelangkaan murai batu ini dapat terpecahkan.

Hampir semua pengemar burung di berbagai daerah pasti sepakat bahwa Murai Batu memiliki suara kicauan termerdu di dunia. (*/de/MC. Bojonegoro)

Leave a Comment