Share

Sistim Pembayaran Pupuk di Bojonegoro Tidak Kaku

“Disini ndak kaku, kalau uangnya kurang Rp2 juta bisa utang dulu, tapi setelah petani membayar ke kelompok tani baru kita membayarkan ke KUD,”

Bojonegoro (Media Center) – “Disini ndak kaku, kalau uangnya kurang Rp2 juta bisa utang dulu, tapi setelah petani membayar ke kelompok tani baru kita membayarkan ke KUD,” ujar Suwantoro, Ketua Kelompok Tani (Poktan) Tani Puter Jaya Desa Ngasinan, Kecamatan Padangan, Bojonegoro Jawa Timur menceritakan mengenai distribusi dan sistem pembelian pupuk yang berlaku di tempatnya. Di Padangan sendiri, seluruh petani telah tergabung dalam Poktan-poktan yang tersebar di penjuru desa, hal ini semakin menjamin ketersediaan pupuk bagi petani di tempat itu.

Ketua KUD Padangan Mihandri Syamsuri, menjelaskan, pada tahun 2014 ini pihaknya mendapatkan jatah pupuk dari Petrokimia sebanyak 92 ribu ton. Meskipun menurun dibanding 2013 lalu yang mencapai 111 ribu ton, namun di KUD yang dipimpinnya tersebut menerapkan penjualan sistem tertutup yang bertujuan melindungi agar pupuk-pupuk yang dibutuhkan benar-benar mengutamakan petani Bojonegoro. “Penurunan itu karena adanya verifikasi dan validasi RDRKK. Namun kami telah mengajukan penambahan sesuai hasil RDRKK yang baru,” sambung Mihandri.

Wilayah distribusi pupuk di KUD Padangan meliputi empat kecamatan yakni Kecamatan Padangan, Kasiman, Kedewan dan Malo, dengan jumlah kios resmi sebanyak 27 kios yang mencakup 51 desa dengan luas panen mencapai sekira 9 ribu hektar (ha). Pendistribusian pupuk bersubsidi ini sangat ketat karena melibatkan KP3 juga pengawas internal dari KUD Padangan. Karena itu pupuk yang disalurkan ke kios resmi berdasarkan RDRKK (Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok). Sehingga jika ada kios resmi yang terbukti menyelewengkan pupuk bersubsidi ini akan ditindak tegas dengan mencabut ijinnya sebagai kios resmi.

Di 9 Kecamatan yang menjadi wilayah edar pupuk dari KUD Padangan tersebut, luas panen di Kecamatan Padangan seluas 6.364 ha meliputi 16 desa, Kedewan 900 ha yang mencakup 6 desa, Kasiman seluas 1.300 ha meliputi 10 desa dan Malo mencakup 20 desa seluas 1.700 ha. Sementara itu, Kepala Dewan Koperasi Indonesia Daerah (Dekopinda) Bojonegoro, Sudarto, mengaku mengapresisasi dengan kehadirannya KUD Padangan sebagai distributor pupuk di wilayah barat.

Menurutnya, dari 9 koperasi di Bojonegoro yang masih aktif, hanya dua KUD yang dipercaya menjadi distributor yakni salah satunya adalah KUD Kepohbaru. “Namun berdasarkan informasi yang kami terima KUD Kepohbaru masih banyak membutuhkan bantun pemerintah,” timpal Sudarto.

Dia berharap, KUD lainnya di Bojonegoro dapat menjadi distributor pupuk seperti KUD Padangan, karena dengan terlibatnya KUD ini akan lebih membantu para petani saat musim tanam, sehingga akan dapat mewujudkan Bojonegoro sebagai swasembada pangan. “Kami bersama dinas Koperasi dan UMKM terus mendorong KUD-KUD lainnya untuk lebih maju,” pungkas Sudarto. (*/numcb)

Leave a Comment