Share

Sulap “Kelobot” Jagung Jadi Bunga Hias

Bojonegoro, 28/2/2019 (Media Center) – Siapa sangka, kelobot, atau kulit jagung bisa dimanfaatkan menjadi kerajinan menarik yang bisa mendatangkan rupiah.

Ide kreatif itu lahir Lilis, ibu rumah tangga asal Dusun Sugih, Desa Malo, Kabupaten Bojonegoro. Dari sentuhan tanggannya, kelobot jagung berhasil disulap menjadi kerajinan tangan menarik dan memiliki nilai jual. Seperti aneka bunga hias mulai mawar, matahari, anggrek, latulip dan lain sebagainya.

Bunga hias itu sangat cocok untuk menghias meja tamu maupun ruangan dalam rumah.

Cara membuatnya cukup mudah. Hanya perlu ketelatenan dan memberikan warna corak seperti warna bunga aslinya, sehingga terkesan seperti bunga aslinya. Selain itu bahan bakunya juga cukup mudah ditemukan di sekitar lingkungan.

Lilis menuturkan, kulit jagung untuk dibuat kerajinan tangan perlu pengolahan terlebih dahulu sebelum digunakan agar lebih menarik. Kulit jagung yang digunakan adalah adalah yang bagian dalam karena lebih lunak agar mudah digunakan.

Setelah kulit jagung dipisah-pisah lapisan-lapisannya kemudian dijemur sampai kering. kemudian dilakukan pewarnaan agar mempunyai warna tertentu sesuai dengan kebutuhan.

“Untuk pewarnaan saya gunakan pewarna tekstil,” ucapnya sambil merangkai kulit jagung menjadi bunga, Kamis (28/2/2019).

Dalam sehari Lilis mengaku bisa memproduksi tiga sampai empat bunga. Pekerjaan itu dia lakoni di sela-sela kesibukannya mengurus rumah tangga.

“Kalau bahan-bahannya sudah siap cepat kok. Yang agak lama harus mengeringkan klobotnya dulu. Jika hujan ya harus nunggu kering dulu,” tuturnya.

Hasil jerajinan tangannya sekarang sudah mulai banyak diminati oleh banyak orang. Dari tetangga sekitar hingga luar desa.

“Selama ini yang membeli kebanyakan teman atau saudara yang mengerti saja, atau info dari mulut ke mulut, sehinga penjualannya belum maksimal,” ujar Lilis yang mengaku memiliki usaha salon rias.

Dia mengaku dalam sebulan pendapatannya bisa sampai Rp1 juta. Pendapatan itu bisa menambah untuk mencukupi kebutuhan.

“Lumayan lah karena ini hanya sambilan daripada nganggur sambil nungguin pelanggan yang ingin nyalon,” jelasnya.

Sekarang ini Lilis juga mulai memasarkannya secara online. Melalui media sosial seperti facebook. Diharapakan melalui cara tersebut hasil karyanya dapat dikenal masyarakat luas. Selain itu dia juga membuka pintu selebar-lebarnya kepada ibu-ibu yang ingin belajar.

“Harapan saya ada pelatihan dan membantu pemasaran, agar kerajinan bisa berkembang. Bisa menjadi tambahan penghailan ibu-ibu di sini,” pungkasnya.

Kepal Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja, Agus Supriyanto mengapresiasi kreativitas tersebut. Menurut dia, pihaknya telah memprogramkan pelatihan bagi perajin dan pemasaran. Diantaranya melalui kegiatan pameran di dalam dan luar Bojonegoro dan di Car Free Day (CFD) setiap minggu.

“Kreativitas seperti inilah yang terus kita dorong agar mampu meningkatkan ekonomi masyarakat,” pungkas Agus. (*dwi/mcb)

Leave a Comment